PERANGKAP BUDAYA GLOBAL

Sun, Mar 29th 2009, 09:46

Perangkap Budaya Global

GLOBALISASI, istilah yang kini digunakan secara meluas, dalam kenyataannya seringkali memerangkap. Sering kita temukan kata-kata “menyosong” , “kedatangan era” yang menyertai kata globalisasi dalam satu kalimat–seakan ia adalah sesuatu yang baru, atau bahkan baru akan datang. Padahal kita semua tahu bahwa fenomena globalisasi bukanlah sesuatu yang baru. Bahkan telah berlangsung ratusan tahun yang lalu. 

Tak ada suatu konsensus tentang makna yang sesungguhnya dari globalisasi, kecuali hanya kesepahaman atas suatu proses yang terjadi yang diakibatkan oleh kegiatan yang menembus atau berdampak melintasi batas-batas negara. Tidaklah mengherankan kalau kemudian diskusi tentang globalisasi menjadi begitu cair dan merembes ke berbagai topik kehidupan umat manusia. Hal inilah, membuat globalisasi dapat dilihat sebagai proses multidemensi (sektor ekonomi, politik, sosial, dan budaya) yang bergerak secara meluas dan mendalam ke berbagai sudut dunia.

Globalisasi sekarang telah menjangkau batas-batas wilayah yang tak terbayangkan sebelumnya. Malahan jauh merasuk ke wilayah fabrik sosial masyarakat, komunitas, keluarga, bahkan individu. Fenomena inilah, kemudian melahirkan pandangan atas globalisasi sebagai arus yang melanda berbagai pelosok dan masyarakat secara lintas budaya.

Bila arus globalisasi mempunyai karakter lintas budaya, maka yang terjadi adalah persentuhan, bahkan pertemuan antarbudaya. Saling mempengaruhi kemudian menjadi sesuatu yang tak terelakkan, dengan kemungkinan posisi simetris maupun asimetris. Jika lintasan yang terjadi antara dua budaya adalah simetris, maka pertemuan budaya menjadi sesuatu yang berimbang, akan tetapi bila yang satu lebih kuat dari yang lain, maka posisi asimetris yang satu menjadi lebih dominan.

Ada baiknya istilah “budaya” diklarifikasi. Sebab sering terjadi debat panjang antara istilah “budaya” atau “kebudayaaan” (culture) dengan “peradaban” (civilization). Untuk keperluan diskusi ini, kebudayaan akan lebih banyak dikonotasikan dengan perangkat acuan perilaku dan tindakan bagi anggota pemiliknya dalam bentuk nilai-nilai. Secara kognitif, kebudayaan menjadi satu sistem mental yang menyediakan peta pikir dan tindak yang harus dimiliki oleh individu agar dapat diterima dan dianggap wajar dalam berinteraksi sesama warga masyarakatnya.

Bila kebudayaan lebih berwajah sebagai nilai, maka peradaban sebagai jelma konkrit nilai-nilai dalam bentuk norma yang menjadi ukuran kepantasan perilaku anggota masyarakat. Berbagai nilai abstrak dalam kebudayaan kemudian diwujudkan dalam bentuk konkrit norma peradaban. Inilah yang bisa menjelaskan tentang nilai kesusilaan yang terjelma dalam tatakrama, nilai keadilan terwujud dalam sistem peradilan dan hukum, nilai keindahan terungkap dalam berbagai artefak seni, dan berbagai nilai lainnya. Peradaban kemudian, walaupun tidak sangat persis, sering diasosiasikan dengan suatu kebudayaan yang memiliki sistem kenegaraan, ilmu pengetahuan, teknologi, bangunan, seni, dan masyarakat kota yang modern dan kompleks.

Dinamika antar-budaya
Keterkaitan budaya dan globalisasi sebenarnya seperti membicarakan suatu hal yang menjelaskan tentang lainnya. Sekalipun globalisasi sering dipersepsikan sebagai variabel dependen yang mempengaruhi budaya, namun banyak pihak sering alpa bahwa sesungguhnya budaya juga mempengaruhi kecepatan, karakteristik dan mekanisme globalisasi. Seperti kata Friedman (2005), budaya jualah yang membuat globalisasi gelombang 1.0 dapat terjadi dimana negara melalui penjajahan sebagai motor utamanya. Globalisasi gelombang 2,0 dimana perusahaan multi nasional menjadi ujung tombaknya. Globalisasi gelombang 3,0, dimana individu dengan bantuan sitem digital dan internet menjadi aktor penentunya. Ketiga gelombang besar globalisasi ini telah beroperasi secara berkelanjutan dalam satu evolusi dan bahkan revolusi budaya yang juga berkelanjutan.

Melihat kepada realitas sejarah globalisasi, tidaklah berlebihan jika disebut sesungguhnya budaya di seluruh dunia berkecenderungan tampil sebagai campuran. Hasil metamorfosis yang sudah sangat sukar dilacak keasliannya. Ini karena interaksi antar-berbagai kawasan, baik karena perdagangan, penjajahan, ilmu pengetahuan, maupun berbagai bentuk hubungan lainnya. Perkembangan dan kemajuan teknologi dalam konteks ini menjadi variabel penentu yang juga berarti interaksi budaya. Orang sering lupa bahwa kehebatan imperium Romawi kuno. Kehebatan budaya teori Yunani yang sangat menghargai ilmu pengetahuan, yang kemudian dikonkritkan dalam berbagai praktek yang memunculkan peradaban Romawi.

Jatuh bangunnya kebudayaan dalam sejarah umat manusia, hakekatnya sangat terkait sejauhmana kerangka acuan pikir dan tindak yang dimiliki masih berlanjut dan relevan dalam suatu masyarakat. Dalam konteks inilah kemudian kita melihat perpindahan pusat-pusat peradaban di dunia, mulai dari Sumeria, Mesir, Cina, Aztec, Maya, Yunani, Romawi, Baghdad , Eropah, dan bahkan sampai ke Amerika Serikat. Dalam perkembangannya, kebudayaan tertentu dalam konteks sistem nilai, dengan suatu strategi dan rancang bangun tertentu dapat didesak oleh sistem nilai baru, sehingga kebudayaan lama kehilangan kekuatannya sebagai rangka besar operasionalisasi norma-norma yang berlaku.

Restorasi Meji di Jepang pada abad ke XIV, gerakan modernisasi sekularisasi Kemal Attaturk di Turki, revolusi Rusia, revolusi Kebudayaan Cina, dan revolusi Islam Ayatollah Khomeini di Iran, merupakan contoh pasang surut kebudayaan, baik karena proses perobahan zaman, maupun karena kehadiran budaya baru yang dipaksakan. Ketika interaksi budaya terjadi, maka dinamikanya dalam arus besar globalisasi menjadi perhatian utama. Di sinilah ketahanan budaya diuji.

Dari pengamatan empirik pada masyarakat di berbagai belahan bumi, kebudayaan selalu menampakkan kekuatan alamiahnya dalam dua bentuk. Pertama, kekuatan untuk lestari atau preservasi. Kedua, kekuatan untuk berkembang dan maju atau kekuatan progresi. Pertemuan antar-budaya kemudian akan menguji sejauhmana ketangguhan kekuatan preservasi dan kecerdikan progresi sebuah budaya berlangsung, yang pada gilirannya akan menentukan keunikan, kemajuan, dan keberlanjutan budaya. Demikianlah kemampuan alamiah kebudayaan India, misalnya, mampu mengambil yang terbaik dan membuang yang tidak baik dari dinasti Moghul dan kolonialis Inggeris. Hal itulah mungkin yang menjelaskan kebangkitan dan kemajuan India hari ini dengan icon, Sillicon Valey nya India di Bangalore, dengan tidak kehilang kari, sari, dan sistem keluarga besar (extended family), yang dimiliki.

Aceh; isolasi vs interaksi
Jika melihat landskap budaya Aceh yang ada hari ini, lalu kita konfirmasikan dengan catatan sejarah yang ada, maka terlihat sangat nyata betapa budaya Aceh telah berjalan berabad-abad, dan berinteraksi dengan berbagai budaya lain di dunia yang sempat bersinggungan dengannya. Setidaknya, ada dua catatan penting, pertama, frekwensi interaksi budaya Aceh dengan budaya luar nusantara jauh lebih banyak dan intens dibandingkan dengan budaya-budaya di berbagai kawasan nusantara. Kedua, dari berbagai interaksi itu ditemukan berbagai jejak budaya; pergeseran budaya, konflik budaya, revolusi budaya, dan bahkan benturan budaya.

Asimilasi, adapatasi, dan bahkan pergeseran budaya di Aceh bisa dilacak sampai abad ke-5, ketika kerajaan Poli di Pidie yang rajanya beragama Budha, berhubungan dengan Dinasti Liang di Cina pada tahun 518 M. Pada bagian lain, semakin banyak ditemui bukti-bukti lingustik yang menerangkan keterkaitan Aceh dengan suku Cham di Vietnam Tengah.

Penjelasan itu seakan cenderung untuk mengklaim bahwa dari segi bahasa, nenek moyang orang Aceh adalah suku Cham dari Vietnam Tengah. Lamuri di Aceh Besar yang seumur dengan Kerajaan Sriwijaya, juga pernah diserang oleh Raja Rateryendra Cola dari India Selatan pada tahun 1030. Selanjutnya ada Kerajaan Peureulak yang bermula pada awal abad ke 12 yang dipimpin oleh keturunan campuran pribumi-arab yang menganut aliran Syiah.

Kerajaan Pasai dahulunya dikenal bernama Parsa atau Tashi dalam catatan musafir Tionghoa, pada awalnya bukanlah kerajaan Islam. Adalah Syech Ismail yang dikirim oleh daulat Abassiyah pada awal abad ke 13 yang mengubah nama Meurah Silu menjadi Malikul Saleh. Tak jauh dari Peureulak ada Kerajaan Tamiang yang diperintah oleh Pucuk Suluh dan anaknya Po Pala pada ujung abad ke 13. Tamiang menjadi Islam pada pemerintahan Raja Muda Sedia setelah tahun 1330 ditaklukkan oleh Pasai.

Nama Aceh sendiri adalah fenomena baru pada abad ke 15, seiring dengan lemah dan hilangnya pengaruh Pasai dan Lamuri. Adalah raja Musaffar Syah yang menguasai Meukuta Alam yang mengalahkan Inayajatsyah dari Darul Kamal yang kemudian memberi nama Aceh-Darussalam, yang kemudian ditaklukkan kembali oleh raja Pidie yang bernama Makruf Syah. Sejarah kemudian mencatat adalah turunan Musaffar Syah, yakni Ali Mughayatsyah yang mempunyai nyali besar dan mulai berpikir untuk sebuah imperium baru Aceh dengan menguasai Pidie dan Pasai untuk kemudian oleh para turunannya di lanjutkan sampai ke Melaka, Johor, Aru di Sumatera Utara, Thailand Selatan, sampai ke Pariaman di Sumatera Barat.

Sejarah juga mencatat, perang Aceh melawan Portugis sebagai perang yang panjang mencapai puluhan tahun, bahkan melintas abad. Tidak banyak kerajaan di Asia Tenggara yang berperang cukup lama melawan kekuatan imperialisme Eropah-Portugis. Pada abad ke 16 Aceh mencapai masa kegemilangan yang tiada tara. Aceh mempunyai kekuatan angkatan perang yang cukup handal dan bahkan dalam banyak hal mengontrol Selat Melaka. Aceh-Banda Aceh- menjadi pelabuhan sekaligus kota dagang internasional terpenting di kawasan Selat Malaka, dan menjadi kerajaan Islam yang mempunyai hubungan diplomatik dengan Kerajaan Ottoman di Turki.

Berbagai peristiwa yang ada, kita kemudian dapat melihat rekonstruksi budaya Aceh dengan segala proses yang dilaluinya dalam suatu mozaik sintesa budaya yang cerdas. Ketika kita melihat kehidupan relegius kita melihat ada elemen budha dan hindu yang diislamkan. Kita juga melihat dengan jelas bagaimana ritual peribadatan agama islam sehari-hari di Aceh yang sangat kental dengan paradigma sunni, hidup berdampingan dan rukun dengan cukup banyak seni yang berakar pada tradisi ahlul bait atau syiah. Kita juga melihat bagaimana Aceh dulu belajar banyak pada kerajaan Ottoman tentang administrasi negara, persenjataan, diplomasi, yang kemudian membawa menjadi sebuah kawasan maju di rantau nusantara.

Sejarah kebudayaan Aceh juga pernah mengalami revolusi. Ketika terjadi perbedaan paradigma, Aceh pernah berdarah, yakni ketika kekuasaan mengintervensi wilayah budaya. Adalah faham wahdatul wujud yang disponsori oleh Hamzah Fansuri, dinegasikan oleh Nuruddin Arraniry melalui kekuasaan, sehingga menyebabkan pembakaran berbagai naskah akademik dan pembunuhan para pengikut faham itu. Pada masa Iskandar Muda, ada suasana kosmopolit kota Banda Aceh sebagai kota dagang, yang membuat banyak orang asing berdatangan. Ada kearifan Iskandar Muda yang tidak memberi izin pembuatan loji-loji perusahaan Eropah, kecuali dalam bentuk kayu yang mudah dibongkar,sebagai antisipasi ancaman budaya. Ada kearifan Iskandar Muda dalam memilih kawan sangat dekat, kawan dekat, kawan biasa, dan bahkan musuh dari berbagai negara asing, sebagai sebuah strategi budaya. Tak jarang ada beberapa peristiwa penting, terutama sejumlah perang dengan Portugis dan Belanda yang terjadi dengan sangat keras dan lama, yang sesungguhnya tidak lebih sebagai sebuah refleksi pertarungan budaya. Dalam berbagai persitiwa itu, terlihat dengan sangat jelas betapa budaya Aceh telah mengalami berbagai proses, namun tetap dalam pasang surut interaksi dan isolasi, dan itu telah terjadi berabad-abad.

Kini kita tidak punya alasan sedikitpun untuk takut dengan globalisasi, karena hal itu telah, sedang, dan akan terjadi. Persoalannya adalah bagaimana mencari formula interaksi dan isolasi yang cocok dan serasi dengan budaya kita. Kuncinya adalah pengetahuan, kedalaman wawasan, ketajaman visi, dan, kesadaran dan ketahanan budaya. Tidak ada yang kekal di bawah matahari, karena kebudayaan itu sendiri adalah dinamis.

* Penulis adalah Sosiolog dan pemerhati politik.

http://m.serambinews.com/news/view/11106/budaya-ekspresi-kreasi-dan-apresiasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: