PEMIKIRAN POLITIK ISLAM

PEMIKIRAN POLITIK ISLAM

Oleh: Afrizal Woyla Saputra Zaini., S.IP

 A. KEHIDUPAN RASULULLAH

  • Masa Kelahiran Rasulullah

Rasulullah dilahirkan pada tahun gajah pada saat pasukan abraham menyerang Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah dan bertepatan dengan tanggal 12 rabiulawal atau 22 April tahun 571 Masehi. Kemudian pada usia 6 tahun Rasulullah menjadi yatim piatu, yang selanjutnya diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib, dan usia 8 tahun diasuh oleh pamannya Abu Thalib.  Pada usia 20 tahun, saat terjadinya perang Harbul-Fujjar antara kabilah Quraisy yang bersekutu dengan bani Kinanah melawan kabilah Qais ‘Ailan, dan  dalam peperangan itu Rasulullah ikut berperan dalam melakukan perjanjian Hifhul Fudhul. Pada usia 25 tahun menikah dengan Khadijah, dan pada usia 40 tahun beliau menjadi menerima wahyu di gua Hira’ melalui malaikat Jibril yaitu pada hari senin bertepatan 21 Ramadhan atau 10 Agustus 610 M.

  • Isra’ dan Mi’raj

Peristiwa yang sangat besar pada diri rasulullah ini adalah berkaitan dengan adanya perintah Allah untuk melaksanakan kewajiban shalat, yang pada awalnya sebanyak 50 kali. Sehingga dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj tersebut akhirnya perintah untuk melakukan kewajiban shalat hanya menjdi 5 waktu.

  • Kehidupan Rasulullah dalam Politik
  1. Kehidupan di Mekkah

Pada masa kehidupan Rasulullah di Mekkah, memiliki beberapa keistimewaan yaitu:

  • Pertama, melakukan dakwah secara tersembunyi yang berlangsung selama tiga tahun. Hal ini dikarenakan, kota Mekkah terdapat para pengabdi Ka’bah dan penyembah berhala yang menganggap patung berhala tersebut sangat suci. Oleh sebab itu untuk melakukan perubahan kepada para penyembah berhala tersebut, rasulullah melakukan dakwah secara sembunyi, agar tidak menimbulkan kecurigaan yang dapat mengganggu serta memicu konflik bagi penduduk kota Mekkah. Langkah pertama yang dilakukan adalah menyampaikan Islam kepada keluarga dekat yaitu Khadijah, Maula, Zaid bin Haritsah, Ali bin Abi Thalib, dan  para sahabat, serta orang-orang yang berperilaku baik.

Disamping itu juga pada masa kehidupan di Mekkah, Rasulullah membuat suatu perjanjian Hudaibiyah, yaitu adanya kebebasan bagi suku Arab untuk memilih bersama kaum Quraisy atau memilih  kaum Muslimin.

  • Kedua, berdakwa secara terbuka kepada penduduk Mekkah yang dimulai tahun keempat masa kerasulan sampai melakukan hijrah. Sehubungan dengan hal ini turunlah ayat untuk melakukan peringatan yaitu surat asy-Syu’ara ayat 214, yang artinya ”Dan berilah peringatan kepad keluargamu yang terdekat”. Kemudian rasulullah mengundang kerabat terdekatnya, Bani Hasyim yang disertai beberapa orang dari Bani al-Muthalib bin abdi Manaf. Selanjutnya Nabi merasa yakin untuk berdakwah secara terbuka dikarenakan ada dukungan dari pamannya Abu Thalib, dan pada suatu hari Rasul melakukan teriakan untuk menarik perhatian orang untuk berkumpul di Bukit Shafa.

Disamping itu juga turunya perintah berdakwah secara terang-terangan yaitu dalam surat al-Hijr ayat 94, yang artinya ”maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik

  • Ketiga, melakukan dakwah di luar wilayah Mekkah dengan melaksanakan hijrah ke Madinah. Dan hijrah pertama dilakukan ke Habasiyah (Ethiopia) dengan rombongan yang terdiri dari 12 orang pria dan 4 orang wanita, dan dipimpin oleh Usman bin Affan.

      2. Kehidupan di Madinah

Saat hijrah ke Madinah, Rasulullah mengubah situasi politik dan sosial masyarakat yang selama puluhan tahun terjadi persaingan antar suku yang didominasi oleh suku Aus dan Khazraj. Salah satu cara yang gunakan untuk mencapai kondisi ini adalah penandatangan perjanjian kesepakatan yang dikenal dengan nama Piagam Madinah, yaitu sebuah dokumen yang berisikan peraturan-peraturan mengenai kehidupan sosial antar seluruh lapisan masyarakat yang ada di Madinah. Sehingga akhirnya terbentuk suatu masyarakat yang bersatu di Madinah yang dipimpin Rasulullah. Dalam rangka memperkuat masyarakat dan sebuah negara baru Madinah tersebut, Rasulullah meletakkan dasar kehidupan bermasyarakat yaitu:

  • Pertama, pembangunan mesjid, selain sebagai tempat shalat, juga untuk sarana dalam mempersatukan kelompok muslimin. Disamping mesjid digunakan sebagai tempat utnuk bermusyawarah dalam merundingkan berbagai persoalan, dan mesjid tersebut juga dijadikan sebagai pusat pemerintahan.
  • Kedua, menciptakan persaudaraan sesama kaum muslim (ukhuwah islamiyyah), yaitu antara orang orang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah (Muhajirin) dan penduduk Madinah yang sudah beragama Islam (Anshar).
  • Ketiga, melakukan persahabatan dengan pihak pihak lain yang bukan beragama Islam, yaitu kelompok orang Yahudi dan juga orang orang suku Arab yang masih menganut agama nenek moyang mereka.

Pada periode kehidupan Rasulullah di Madinah tersebut, Islam merupakan suatu kekuatan politik, dan episode baru dalam sejarah Islam serta kehidupan Rasulullah pun diawali dari Madinah dengan pengangkatan secara resmi menjadi pemimpin bagi penduduk Madinah.

B. PERUBAHAN POLITIK

  1. Zaman Rasulullah

Mengenai sistem politik pada masa Rasulullah, dan yang sangat penting adalah pada saat terjadinya Perjanjian Madinah, yaitu adanya jaminan kebebasan dalam hal politik dan keagamaan bagi semua kelompok agama dan suku yang berbeda dalam suatu sistem pemerintahan yang dipimpin oleh Rasulullah. Disamping itu juga adanya perjanjian Hudaibiyah, yaitu kesepakatan antara kaum muslim dengan kaum Quraisy di kota Mekkah, yang isinya adalah:

  • Kaum muslim ditangguhkan untuk dapat mengunjungi Ka’bah,
  • Lama kunjungan dibatasi sampai tiga hari,
  • Kaum muslimin wajib mengembalikan orang-orang Mekkah yang lai ke Madinah dan orang Quraisy tidak boleh menolak orang-orang Madinah yang kembali ke Mekkah,
  • Adanya gencatan senjata selama sepuluh tahun antara masyarakat madinah dan Mekkah.
  • Kebebasan bagi setiap kabilah yang ingin masuk ke kelompok Quraisy atau ke kaum Muslimin tanpa ada halangan.

Dengan demikian pada zaman Rasulullah, pelaksanaan sistem pemerintahan yang memiliki nilai-nilai demokrasi sudah terwujud, termasuk dalam mengatasi berbagai konflik sosial masyarakat baik di Mekkah maupun di Madinah. Begitu juga dalam hal melakukan strategis politik menyangkut dengan perluasan wilayah dalam menyebarkan dakwah atau ideologi Islam ke seluruh Jazirah Arab, yaitu terbukti dengan ditaklukkannya Bani Tsaqif dan Bani Hawazin dibawah kepemimpinan Muhammad dalam waktu sebelas tahun sebagai pemimpin politik.

Sehingga setelah Rasulullah wafat, nilai-nilai politik yang demokratis dalam memilih seorang pemimpin tetap dijalankan oleh para pemimpin berikutnya yaitu pada masa Khalifah Rasyidah.

      2. Era Khalifah Rasyidah

  • Masa Khalifah Abu Bakar

Abu Bakar adalah pengganti Rasulullah dalam melaksanakan kepemimpinan  baik sebagai pemimpin agama maupun politik selama dua tahun. Sistem pemerintahan pada masa Abu Bakar bersifat sentral yaitu ada pada khalifah dan memiliki lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Pada masa ini juga dikirim seorang utusan ke Iraq yang bernama Khalid bin Walid tahun 634 M, yang kemudian diperintahkan untuk pergi ke Syria dalam membantu pasukan yang dipimpin oleh Usamah. Dalam menjalankan pemerintahan Abu Bakar melakukan musyawarah dengan melibatkan para sahabat.

  • Masa Khalifah Umar bin Khathab

Pada masa kepemimpinan Khalifah Umar yang memerintah selama sepuluh tahun (13-23 H/634-644 M), karena dibunuh oleh seorang budak Persia yang bernama Abu Lu’lu’ah atau Feroz. Pada masa Umar, perluasan atau ekspansi wilayah pertama terjadi saat menguasai Syria dan Damaskus tahun 635 M, dan kemudian dilanjutkan ke wilayah Mesir dibawah pimpinan amir bin Ash. Sehingga pada masa itu wilayah yang dikuasai oleh Khalifah Umar adalah Jazirah Arab, Syria, Persia, Mesir, dan Palestina.

Dikarenakan kekuasaan wilayah yang semakin luas, maka Umar membagi beberapa wilayah dalam administrasi berbentuk provinsi yaitu: Mekkah, Madinah, Syria, Arab, Basrah, Kufah, Mesir dan Palestina. Selanjutnya pada masa itu diatur sistem pembayaran gaji dan pajak, serta membentuk tugas-tugas pemerintahan lainnya seperti kepolisian, pekerjaan umum, menerbitkan mata uang,  penetapan tahun Hijriah, dan mendirikan Baitul Mal.

Dalam hal memilih kepemimpinan atau Khalifah untuk masa berikutnya, Usmar membentuk suatu Dewan yang terdiri; Usman, Ali, Thalha, Zubair, Abdurrahman bin Auf, Said bin Waqas, untuk memilih diantara mereka untuk menjadi Khalifah.

  • Masa Khalifah Usman bin Affan

Khalifah Usman memerintah selama12 tahun (644-656 M), pada masa itu Usman mampu menguasai wilayah Armenia, Tuniasia, Syprus, wilayah sisa dari Persia, sampai ke wilayah Asia dan Afrika. Dalam menjalankan pemerintahan Usman menganut sistem nepotisme atau mengangkat keluarga untuk menduduki suatu jabatan penting, seperti Marwan bin Hakam sebagai sekretarisnya. Sehingga kebijakan Usman dalam menjalankan pemerintahan banyak ditentang masyarakat, seperti yang terjadi di Basra dan Kufa yang menentang kebijakan gubernur.

Namun khalifah Usman dalam masa kepemimpinannya berhasil membangun bendungan untuk menjaga aliran air dalam mengatasi terjadinya banjir, membangun infrastruktur lainnya seperti jalan, jembatan, dan termasuk memperluas mesjid Nabawi di Madinah.

  • Masa Khalifah Ali bin Abu Thalib

Khalifah ali memerintah selama enam tahun dan diangkat menjadi Khalifah tanggal 23 Juni 656 sampai 661 M. Kebijakan pertama yang dilakukan adalah memecat gubernur yang diangkat oleh Khalifah Usman. Kebijakan tersebut dilakukan Ali sebagai strategi untuk mengatasi pemberontakan. Disamping itu juga mengembalikan sistem perpajakan seperti yang diterapkan pada masa Khalifah Umar. Namun pada masa kepemimpinan ali juga terjadi pemberontakan dari Thalhah, Zubair, dan Aisyah. Peristiwa yang dikenal dengan nama Perang Unta ini dikarenakan Ali tidak mau menyelidiki dan menghukum para pembunuh Usman.  Disamping itu juga ada pemberontakan di Damaskus yang dipimpin oleh Muawiyah bin Abu Sofyan, dengan memanfaatkan kematian Khalifah Usman dalam rangka untuk menjatuhkan kepemimpinan Ali, atau dikenal dengan Perang Shiffin.

Sehingga pada masa kepemimpinan ali, Islam terbagi menjadi tiga kekuatan politik yaitu, Muawiyah, Syiah atau pengikut Ali, dan Khawarij atau yang menentang Ali. Selanjutnya sejarah politik Islam dipimpin oleh bani Umayah.

    3. Dinasti Umayah

Pada masa Dinasti Umayah yang memerintah antara tahun (660-680 M) sistem pemeintahan yang demokratis berubah menjadi monarkhi, yang ditandai dengan adanya kebijakan kekuasaan Muawiyah mewajibkan kepada seluruh rakyat untuk menyatakan setia pada anaknya Yazid. Dan menyebut kepemimpinanya sebagai penguasa.

Berdirinya Daulah Umayah berasal dari nama Umayah Ibn ‘Abdi Syams Ibn ‘Abdi Manaf, yaitu salah seorang dari pemimpin kabilah Quraisy pada zaman jahiliyah.  Bani Umayah baru masuk agama Islam setelah mereka tidak menemukan jalan lain selain memasukinya, yaitu ketika Nabi Muhammad berserta beribu-ribu pengikutnya yang benar-benar percaya terhadap kerasulan dan kepemimpinan yang menyerbu masuk ke dalam kota Makkah. Memasuki tahun ke 40 H/660 M, banyak sekali pertikaian politik dikalangan ummat Islam, puncaknya adalah ketika terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib oleh Ibnu Muljam. Setelah khalifah terbunuh, kaum muslimin diwilayah Iraq mengangkat al-Hasan putra tertua Ali sebagai khalifah yang sah. Sementara itu Mu’awiyah sebagi gubernur propinsi Suriah (Damaskus) juga menobatkan dirinya sebagai Khalifah.

Namun karena Hasan ternyata lemah sementara Mu’awiyah bin Abi Sufyan bertambah kuat, maka Hasan bin Ali menyerahkan pemerintahannya kepada mu’awiyyah bin abi sufyan.Mu’awiyah sebagai pendiri dinasti Umayyah adalah putra Abu Sufyan, seorang pemuka Quraisy yang menjadi musuh Nabi Muhammad saw. Mu’awiyah dan keluarga keturunan Bani Umayyah memeluk Islam pada saat terjadi penaklukan kota Makkah. Nabi pernah mengangkatnya sebagai sekretaris pribadi dan Nabi berkenan menikahi saudaranya yang perempuan yang bernama Umi Habibah. Karier politik Mu’awiyah mulai meningkat pada masa pemerintahan Umar Ibn Khattab. Setelah kematian Yazid Ibn Abu Sufyan pada peperangan Yarmuk, Mu’awiyah diangkat menjadi kepala di sebuah kota di Syria. Karena keberhasilan kepemimpinannya, tidak lama kemudian dia diangkat menjadi gubernur Syria oleh khalifah Umar. Mu’awiyah selama menjabat sebagai gubernur Syria, giat melancarkan perluasan wilayah kekuasaan Islam sampai perbatasan wilayah kekuasaan Bizantine.Pada masa pemerintahan khalifah Ali Ibn Abu Thalib, Mu’awiyah terlibat konflik dengan khalifah Ali untuk mempertahankan kedudukannya sebagai gubernur Syria.Sejak saat itu Mu’awiyah mulai berambisi untuk menjadi khalifah dengan mendirikan dinasti Umayyah. Setelah menurunkan Hasan Ibn Ali, Mu’awiyah menjadi penguasa seluruh imperium Islam,dan menaklukan Afrika Utara merupakan peristiwa penting dan bersejarah selama masa kekuasaannya

          4. Dinasti Abasyah

Pemerintahan dinasti Abbasiyah dinisbatkan kepada Al- Abbas, paman Rasulullah, sementara Khalifah pertama dari pemerintahan ini adalah Abdullah Ash- Sahffah bin Muhammad bin Ali Bin Abdulah bin Abbas bin Abdul Muthalib.Pada tahun 132 H/750 M, oleh Abul abbas Ash- saffah,dan sekaligus sebagai khalifah pertama.Selama lima Abad dari tahun 132-656 H ( 750 M- 1258 M).Kemenangan pemikiran yang pernah dikumandangkan oleh Bani Hasyim ( Alawiyun ) setelah meninggalnya Rasulullah dengan mengatakan bahwa yang berhak untuk berkuasa adalah keturunana Rasulullah dan anak-anaknya.

Sebelum berdirinya Dinasti Abbasiyah terdapat tiga poros utama yang merupakan pusat kegiatan, anatara satu dengan yang lain memiliki kedudukan tersendiri dalam memainkan peranya untuk menegakan kekuasaan keluarga besar paman Rasulullah, Abbas bin Abdul Muthalib.Dari nama Al- Abbas paman Rasulullah inilah nama ini di sandarkan pada tiga tempat pusat kegiatan, yaitu Humaimah, Kufah,dan khurasan.

Di kota Mumaimah bermukim keluarga Abbasiyah, salah seorang pimpinannya bernama Al-imam Muhammad bin Ali yang merupakan peletak dasar-dasar bagi berdirinya dinasti Abbasiyah.Para penerang Abbasiyah berjumlah 150 orang di bawah para pimpinannya yang berjumlah 12 orang dan puncak pimpinannya adalah Muhammad bin Ali.

Propaganda Abbasiyah dilaksanakan dengan strategi yang cukup matang sebagai gerakan rahasia.Akan tetapi,imam Ibrahim pemimpin Abbasiyah yang berkeinginan mendirikan kekuasaan Abbasiyah,gerakannya diketahui oleh khalifah Ummayah terakhir,Marwan bin Muhammad. Ibrahim akhirnya tertangkap oleh pasukan dinasti Umayyah dan dipenjarakan di haran sebelum akhirnya diekskusi. Ia mewasiatka kepada adiknya Abul Abbas untuk menggantikan kedudukannya ketika tahu bahwa ia akan terbunuh,dan memerintahkan untuk pindah ke kufah.Sedangkan pemimpin propaganda dibebankan kepada Abu Salamah.Segeralah Abul Abbas pindah dari Humaimah ke kufah di iringi oleh para pembesar Abbasiyah yang lain seperti Abu Ja’far,Isa bin Musa, dan Abdullah bin Ali.

Penguasa Umayyah di kufah, Yazid bin Umar bin Hubairah, ditaklukan oleh Abbasiyah dan di usir ke Wasit.Abu Salamah selanjutnya berkemah di kufah yang telah di taklukan pada tahun 132 H. Abdullah bin Ali, salah seorang paman Abbul Abbas di perintahkan untuk mengejar khaliffah Umayyah terakhir, marwan bin Muhammad bersama pasukannya yang melarikan diri, dimana akhirnya dapat di pukul di dataran rendah sungai Zab. Khlifah itu melarikan diri hingga ke fustat di mesir, dan akhirnya terbunuh di Busir, wilayah Al- Fayyum, tahun 132 H/750 M. Dan beririlah Dinasti Abbasiyah yang di pimpin oleh khalifah pertamanya, yaitu Abbul Abbas Ash- Shaffah dengan pusat kekuasaan awalnya di Kufah.

C. HUBUNGAN ISLAM DAN POLITIK

  • Islam sebagai Agama Dunia dan Politik

Dalam pemikiran beberapa kalangan Islam, hubungan antar Islam sebagai agama dan politik adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Karena politik dan agama merupakan suatu hal yang menyatu dalam mengatur sistem pemerintahan bagi tatanan kehidupan sosuial masyarakat. Seperti yang dianut oleh Ikhwanul Muslimin di Mesir dibawah pimpinan Hasan Al Bana. Begitu juga dengan kelompok Hizbul Tahlil di Indonesia. Bahwa dalam suatu negara harus ada keterlibatan negara secara formal menyangkut masalah agama.

  • Islam tidak ada Hubungan dengan Politik

Dalam pandangan orang sekuler seperti para pemikir dari Barat atau non Muslim khusnya menganggap bahwa Islam tidak ada kaitan dengan agama. Hal ini dikarenakan urusan agama adalah masalah individu antara manusia dengan tuhan, sedangkan masalah politik merupakan tugas negara secara umum.

Pemahaman tersebut sengaja dilakukan untuk memisahkan atau menghancurkan nilai-nilai Islam bagi pemeluknya. Dan para pemikir yang berasal dari Islam adalah seperti Ali Abdul Raziq dan Thaha Husein dari Afrika.

  • Islam memiliki Nilai dan Etika Politik

Sedangkan pemahaman yang ketiga, berpendapat bahwa Islam memiliki landasan nilai-nilai politik yang harus diterapkan dalam kehidupan sosial masyarakat termasuk dalam bernegara. Disamping itu Islam memandang masyarakat sebagai kelompok yang harus patuh dan taat pada ketentuan sistem politik

Perihal Afrizal WS Zaini
BIODATA Nama : Afrizal Woyla Saputra Zaini., S.IP Tempat/Tanggal Lahir : Seuradeuk/29 Juli 1990 Agama : Islam Jenis Kelamin : Laki-Laki Nama Orang Tua : - Ayah : Zaini Djambi (Alm) Ibu : Mariyah Alamat di Aceh : Ds. Seuradeuk Kec.Woyla Timur Kab. Aceh Barat Alamat di Malang : Asrama Mahasiswa Aceh, Jl. Bendungan Jatigede No. 03 Telp 0341-576156/HP 085277784400. Malang Pekerjaan : Wiraswasta Fak/Jurusan : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik/ Ilmu Pemerintahan Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang E-mail : awszaini@yahoo.com Twitter :@afrizalwoyla Riwayat Pendidikan : 1.Sekolah Dasar Negeri Meutulang : 1997-2003 2.Madrasah Tsanawiyah Negeri Peureumeu : 2003-2006 3.Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 6 Meulaboh : 2006-2009 4.Universitas Muhammadiyah Malang : 2009 - 2013 Pengalaman Organisasi : 1. Sekretaris Umum Ikatan Pelajar Pemuda & Mahasiswa Aceh (IPPMA) Malang 2009-2010, dan 2010-2011. 2. Sekretaris Asrama Mahasiswa Aceh Malang 2009-2010. 3. Ketua Panitia Pembangunan Asarama Aceh Malang Anggaran 2010 4. Ketua Umum Angkatan 2009 Jurusan Ilmu Pemerintahan UMM. 5. Ketua Departemen Politik Hukum Dan HAM Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UMM 2010 - 2011. 6. Anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FISIP UMM. 7. Anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat FISIP UMM. 8. Sekretaris Panitia Day Of Tsunami ” Masa Depan Aceh Pasca Tsunami” Tahun 2009. 9. Anggota Paskibraka Kabupaten Aceh Barat Angkatan 63 Tahun 2008. 10. Anggota Nasional Demokrat DPC Kabupaten Aceh Barat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: