ORIENTALISME DALAM BIDANG HUKUM ISLAM

ORIENTALISME DALAM BIDANG HUKUM ISLAM

Oleh: Afrizal Woyla Saputra Zaini

Kaum orientalis betul-betul menguras tenaga besar demi melakukan modernisasi terhadap hukum Islam. Mereka mengecam ilmu fikih sebagai ajaran yang statis dan kolot. Mereka mengajak melakukan reformasi terhadap dasar-dasar ajaran Islam. Syariat menurut mereka tidaklah bersifat baku, karena kehidupan manusia mengalami perkembangan dan modernisasi. Sebenarnya tujuan mereka adalah memisahkan agama dari realitas kehidupan.

Gibb berkata, “Hasil murni dari gerakan pengajaran dan gerakan westernisasi ini adalah keberhasilan melepaskan masyarakat Islam dari kekuasaan agama tanpa dirasakan secara umum oleh masyarakat Islam sendiri. Poin ini saja sudah merupakan permata berharga bagi setiap gerakan westernisasi yang efektif di dunia Islam.” Kaum orientalis yakin bahwa hukum-hukum atau undang-undang tidak masuk dalam pengertian agama. Dengan alasan itu, berarti negara tidak bisa tunduk kepada agama. Hasilnya, banyak hal yang keluar dari ruang lingkup ajaran Islam, seperti ekonomi, sosial, dan politik. Di antara kesesatan mereka yang lain adalah provokasi untuk melenyapkan kekhalifahan. Gibb berkata, “Kaum muslimin yang memiliki orientasi berpikir sekuler dan nasionalis tentu setuju untuk melenyapkan kekhalifahan.” [1].

Tujuan mereka tentu saja untuk memisahkan agama dengan hukum politik. Orientalis Wilfred Smith melemparkan syubhat modernisasi ajaran Islam dengan membandingkan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rahimallahu Ta’ala dengan Jamaludin Al-Afghani. Menurutnya, Muhammad bin Abdil Wahhab Rahimallahu Ta’ala mempropagandakan ajaran Islam kuno, sementara Al-Afghani menggabungkan karakter Islam dan pendapat Barat. Menurutnya, Al-Afghani adalah orang modern. Kenyataannya, Al-Afghani ternyata terlibat dalam gerakan Freemasonry. Penyelidikan juga menyatakan bahwa ia penganut Mazindaroni, salah satu anak cabang Syiah Rafidhah.

Kebalikannya, Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rahimallahu Ta’ala adalah mujaddid yang berusaha mengembalikan nilai-nilai Islam yang murni. Begitulah serangan orientalisme terhadap Islam. Anehnya beberapa pemikir muslim ternyata mengikuti langkah-langkah orientalis ini dan jadilah mereka menghujat ajaran-ajaran Islam seperti Ahmad Amin, Thaha Husain, Abu Rayyah. Mayoritas pemikiran orientalisme adalah barang berbahaya bagi Islam. Seorang muslim yang membaca buku-buku karya orientalis hendaknya mempunyai pengetahuan yang benar dan cukup tentang Islam yang sebenarnya sehingga tidak terjebak pada ide-ide kaum kuffar yang menipu. Bagaimana pun juga, Allah akan terus membangkitkan ulama untuk membantah pemikiran-pemikiran mereka[2]

A. Peletak Dasar Kajian dalam Bidang Hukum Islam di Barat

            Sederetan nama yang cukup popular dalam kajian Islam dibarat, khususnya yang berkaitan dengan hukum islam, seperti Snouck Hurgronje dan Ignaz Goldziher, kedua tokoh ini dianggap sebagai peletak dasar-dasar kajian hukum islam dengan mengintrodusir model pendekatan sejarah (historical approach). Model pendekatan yang seperti ini, kemudian dilanjutkan oleh sarjana-sarjana berikutnya dan diantaranya yang termasyhur adalah Josep Schacht, yang karya-karyanya dianggap sebagai kitab suci dalam kajian hukum Islam di Barat[3]. Salah satu contoh model pendekatan sejarah ini ialah tentang pengangkatan qadhi,  Menurut Schacht, hukum Islam belum eksis pada masa al-Sya’bi (w. 110 H). Ini artinya bahwa apabila bahwa apabila terdapat Hadis yang berkaitan dengan hukum Islam, maka Hadis-hadis itu adalah buatan orang-orang yang hidup sesudah al-Sya’bi. Schacht berpendapat bahwa hukum Islam baru dikenal semenjak masa pengangkatan para qadhi (hakim agama). Para Khalifah dahulu tidak pernah mengangkat qadhi, Pengangkatan qadhi baru dilakukan pada masa Dinasti Bani Umayyah. Kira-kira pada akhir abad I hijri, pengangkatan qadhi itu ditujukan kepada “orang-orang spesialis” yang berasal dari kalangan taat beragama. Karena jumlah orang-orang ini bertambah banyak, maka akhirnya mereka berkembang menjadi kelompok aliran fiqh klasik (madzhab). Hal ini terjadi pada awal abad pertama hijri.

Keputusan-keputusan hukum yang diberikan pada qadhi memerlukan legitimasi dari orang-orang yang memiliki otoritas yang lebih tinggi. Karenanya, mereka tidak menisbahkan (mengaitkan) keputusan-keputusan itu kepada diri sendiri, melainkan kepada tokoh-tokoh sebelumnya. Misalnya, orang-orang Iraq menisbahkan pendapat-pendapat mereka kepada Ibrahim al-Nakha’i (w. 95 H). Pada perkembangan berikutnya, pendapat-pendapat qadhi itu tidak hanya dinisbahkan kepada tokoh-tokoh terdahulu yang jaraknya masih dekat, melainkan dinisbahkan kepada tokoh-tokoh yang lebih terdahulu, misalnya Masruq. Langkah berikutnya untuk memperoleh legitimasi yang lebih kuat, pendapat-pendapat itu dinisbahkan kepada tokoh yang memiliki otoritas yang lebih tinggi, misalnya Shahabat Abdullah bin Mas’ud. Dan pada ronde terakhir, pendapat-pendapat itu dinisbahkan kepada Nabi Muhammad. Inilah rekonstruksi terbentuknya sanad Hadis menurut Prof. Dr. Joseph Schacht, yaitu dengan memproyeksikan pendapat-pendapat itu kepada tokoh-tokoh di belakang (Projecting Back). Teori rekayasa ini bertujuan untuk memperkuat tuduhannya bahwa apa yang disebut sanad Hadis itu adalah palsu. Begitu pula mantan atau materi Hadisnya, karena kesemuanya adalah ciptaan orang-orang belakangan[4].

B. Kelompok Pemikiran Utama dalam Kajian Hukum Islam

            Pada dasarnya pendekatan sejarah dalam kajian hukum islam di barat berorientasi pada dua kelompok pemikiran utama yang oleh J. Koren dan Y.D. disebut sebagai kelompok tradisionalis dan revisionis[5].

  1. Kelompok Tradisionalis

Kelompok tradisionalis secara umum, mereka mengkaji hukum islam melalui literature-literatur yang ditulis oleh orang arab atau orang islam. Menurut mereka literature tersebut dapat dijadikan sebagai bahan sumber kajian Islam, dan setiap fakta dan data yang ada dipandang benar selama tidak ada fakta lain yang membuktikan sebaliknya, salah satu pendukung kelompok tradisionalis adalah W. Montgomery Watt, ia merefleksikan dukungannya melalui karya-karyanya seperti; Muhammad :Prophet and statesmen. Adapun dalam bidang hukum, antara lain dapat disebutkan nama-nama seperti David S Power dan Wael B Hallaq.

  1. Kelompok Revisionis

Sementara kelompok revisionis lebih ekstrem terhadap Islam, bahkan mereka menyatakan bahwa Islam itu sebenarnya tidak memounyai rumusan ajaran hukum, menurut mereka hampir seluruh formulasi hukum yang ada merupakan hasil jiplakan dari aturan agama sebelumnya, khususnya yahudi; dan terkait dengan literature Arab atau Islam yang ada, merupakan upaya menjustifikasi kebenaran dan kehebatan Islam, bukan sebagai data-data sejarah, Akibatnya dalam banyak hal ditemukan sejumlah pendapat yang tidak factual atau kontradiktif. Salah satu contoh adalah hadist Nabi yang menjelaskan tentang pernikahan Nabi pada saat melakukan haji, di satu pihak sumber yang ada menyebutkan Nabi melakukannya pada waktu haji dan sementara di pihak lain menyebutkan sesudahnya. Hal ini menyebabkan terjadinya silang pendapat di kalangan fuqaha’, apakah kawin pada saat haji itu boleh atau tidak.

            Kedua kelompok ini saling bertentangan, bahkan diantra mereka saling mengkritisi karya yang satu dengan yang lain, seperti kasus Montgomery Watt ia menyatakan bahwa Mekkah merupakan pusat dan jalur lalu lintas perdagangan, sehingga posisi strategis ini menjadi arti penting dalam penyebaran isalm, pandangan ini ditolak oleh Patricia Crone dengan menyatakan bahwa kota segersang Mekkah tidak mungkin memproduksi bahan yang menarik perhatian luar, oleh karena itu menurutnya perlu fakta lain untuk mengungkapkan kenapa Islam menyebar dengan cepat kewilayah diluar Mekkah. Namun menurut Rodinson bahwa terdapat perbedaan bahkan kontradiksi antaqra data yang ditulis pengarang satu dengan yana lain, akan tetapi secara tegas Rodinson menyatakan hal itu bukanlah suatu alasan untuk menolak karya orang-orang Arab atau Islam, selain Rodinson, Serjeant juga mengecam hasil penelitian Crone dengan menuduhnya sarjana yang tidak mempunyai bekal bahasa Arab yang memadai dan Crone sendiri menanggapi bahwaq serjeant terkesan mengada-ada dan sikapnya itu disebabkan karena fanatisme seorang Arab.

            Tujuan kaum revisionis ialah menghapus sejarah islam secara menyeluruh dan pemalsuan terhadap sejarah islam, dengan berbagai upaya pengaburan terhadap ajaran Islam, demi sebuah ideologi dan arena politik. Adapun yang menjadi tujuan utama mereka adalah memberikan proteksi yang kuat terhadap agama Kristen dalam menghadapiu arus kemajuan agama Islam. Sekarang muncul metode baru dikalangan ilmuwan barat dalam menyerang tradisi buku-buku tafsir yang menuntut pembaharuan. Dengan alasan hak tersendiri dalam menafsirkan kitab suci. Basetti Sani dan Youakim Moubarak keduanya bersikeras bahwa tafsiran Al-Qur’an mesti dibuat sejalan dengan ukuran kebenaran agama Kristen, dan pernyataan mereka mendapat acungan jempol dari W.C. Smith dan Kenneth Cragg, sebagai seorang pemimpin gereja Anglican, Cragg menekankan agar umat islam menghapus semua ayat yg diturunkan di Madinah (dengan penekanan dibidang politik dan hukum) guna mem-pertahankan esensi ayat-ayat Makkiyah yang secara umum lebih menyentuh masalah KeEsaan Tuhan (Monotheism) dimana ayat Madaniyyah dianggap meremehkan nilai keTuhanan dari esensi pernyataan “Tiada Tuhan Selain Allah” Konsep pemikiran ini bermaksud untuk “menggoyang” orang-orang yg lemah iman dan was-was dengan menggunakan senjata “Sikap Sinis” kaum orientalis yg selalu menghujat Al-Qur’an agar semakin mudah menerima ideology Barat[6].

C. Teori-teori yang digunakan Kelompok Revisionis dalam Bidang Hukum Islam

            Dalam prakteknya, kelompok revisionis menggunakan berbagai macam teori dalam kaitannya mengkaji tentang hukum Islam antara lain, common link theory, backward-projection theory, e-silentio theory, dan redaction theory, pada mulanya teori-teori ini diberlakukan pada teks-teks biblikal, namun kemudian diterapkan pada teks-teks yang berisi ajaran Islam. Dalam kajian Islam teori-teori tersebut diterapkan dalam kajian hadist, mereka beralasan karena hadist itu mempunyai peran penting untuk menelusuri historisitas pemikiran yang berkembang dalam hukum Islam.

  1. Common link theory

Sebenarnya sejak awal fenomena teori ini sudah sangat dikenal oleh para ulama ahli hadist dikalangan islam[7]. Teori ini menegaskan bahwa pada saat-saat tertentu, pembawa hadist hanya satu orang. Orang tersebut menerima dari orang banyak dan kemudian menyebarkan kepada orang banyak. Hal inilah yang menimbulkan pertanyaan besar bagi kaum revisionis, sebab tidak mungkin satu hadist hanya disebarkan satu orang saja.

  1. E-Silentio theory

Menurut teori ini pada suatu ketika terjadi perdebatan masalah hukum tertentu, salah seorang peserta diskusi tersebut mengajukan satu dalil berupa hadist yang dikatakan berasal dari nabi, sebenrnya jauh sebelum itu sudah ada perdebatan terkait hal yang sama, Namun pada peristiwa pertama tidak seorangpun yang mengemukakan hadist ini.  Ini memberikan indikasi bahwa hadist tersebut bukan berasal dari Nabi dan merupakan justifikasi seseorang untuk mendukung pendapatnya.

  1. Backward-projection theory

Menurut Schacht teori ini adalah upaya, baik dari aliran fiqh klasik maupun dari para ahli hadist untuk mengaitkan berbagai doktrin mereka kepada otoritas yang lebih tinggi di masa lampau, seperti tabi’in, sahabat hingga kepada Nabi. Menurutnya upaya ini dilakukan agar doktrin-doktrin para ulama terdahulu dipercaya oleh generasi berikutnya[8]. Sebagian sarjana mengatakan bahwa kokohnya mazhab dalam hukum Islam antara lain disebabkan oleh proses backward-projection theory ini[9].

  1. Redaction theory

Teori ini mencakup tiga teori sebelumnya, teori ini mengatakan bahwa satu pendapat atau satu karya tulis itu sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, oleh karena itu untuk memahami suatu pendapat atau karya diperlukan pemahaman terhadap konteks yang ada. Teori ini juga menjelaskan adanya sejumlah karya terkenal yang dinyatakan sebagai hasil fuqaha’ tertentu, padahal dalam kenyataannya karya tersebut ditulis oleh orang lain.

D. Kelemahan Fundamental Orientalis dalam Kajian Hukum Islam

            Para pengamat studi orientalis yang jujur mengemukakan beberapa kelemahan orientalis yang sulit dipungkiri siapa pun. Di antaranya sebagai berikut[10] :

1. Tidak menguasai bahasa Arab secara baik, sense bahasa yang lemah, dan pemahaman yang terbatas atas konteks pemakaian bahasa Arab yang variatif. Kelemahan ini tentu mempengaruhi pemahaman mereka atas referensi-referensi Islam yang inti, seperti Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena itu, pemahaman mereka tentang Islam dan risalahnya rancu dan kabur. Hal ini diungkapkan oleh Syaikh Musthafa as-Siba’i setelah ia meninjau langsung pusat orientalisme di sekitar Eropa dan berdialog langsung dengan para orientalis.Para orientalis itu pada akhirnya banyak yang mengakui bahwa keterbatasan mereka dalam memahani materi-materi keislaman lebih menonjol ketimbang kelebihan metodologi yang mereka miliki. Bahkan, ada di antara mereka yang berterus terang bahwa Arablah (muslimlah) yang seharusnya memegang pekerjaan ini. Keterbatasan dalam menguasai bahasa Arab sangat mempengaruhi pemahaman mereka tentang Islam.

2. Perasaan “superioritas” sebagai orang Barat. Ilmuwan Barat, khususnya orientalis, senantiasa merasa bahwa “Barat” adalah “guru” dalam segala hal, khususnya dalam logika dan peradaban. Mereka cenderung tidak mau digurui oleh orang Timur.

3. Orientalis Barat sangat memegang teguh doktrin-doktrin mereka yang tidak boleh dikritik, bahkan sampai ke tingkat fanatik buta. Di antaranya dua doktrin inti, yaitu bahwa Al-Qur’an dalam pandangan insan Barat bukan kalam Allah dan Muhammad bukan rasul Allah. Doktrin ini sudah lebih dulu tertanam dalam pikiran mereka sebelum meneliti, sebab ini merupakan doktrin agama mereka yang ditanamkan sejak kecil. Sehingga, penelitian yang dilakukannya diarahkan hanya untuk mendukung asumsinya saja, bukan ingin mencari kebenaran secara objektif dan bebas. Karena itulah, peneliti-peneliti Barat menelan mentah-mentah riwayat-riwayat palsu, membesar-besarkan masalah kecil, menggunakan tuduhan palsu sebagai argumentasi, dan beralasan dengan sesuatu yang tidak diakui sebagi dalil. Mereka menolak semua pendapat yang berbeda dengan pikirannya, sekalipun itu benar dan argumentatif.  

Dari segi metodologi, dia telah memiliki prakonsepsi dan tidak mau dikritik, bahkan fanatis. Oleh karena itu, hati-hati dengan hasil karya mereka. Sebab, dari mereka ada yang bersikap halus. Dalam tulisan-tulisannya, mereka sengaja menyajikan Islam secara benar dan kejayaannya di masa silam. Tetapi, ada satu atau dua poin konsep yang sangat membahayakan mereka selipkan dalam tulisan itu. Pujian dan sanjungan mereka terhadap Islam di permulaan bertujuan untuk menggiring pembaca untuk membenarkan seluruh isi buku dan tidak merasakan hal-hal yang ganjil, sehingga berkesimpulan bahwa penulis tersebut jujur dan objektif. Misalnya, kasus Noel J. Coulson, orientalis Inggris, guru besar “hukum Islam” di UniversitasLondon. Sepintas lalu dengan membaca karya-karyanya, orang akan mengira bahwa Coulson adalah orientalis yang jujur. Karena, ia mengakui bahwa sistem hukum Islam adalah sistem yang dinamis, bisa digunakan, dan telah mengakar dalam sanubari umatnya. Berbeda sekali dengan pandangan gurunya, Joseph Schacht yang terang-terangan anti-hukum Islam, dan menuduhnya dengan sederetan tuduhan keji yang tidak masuk akal.

Di sela-sela sanjungannya dalam buku A History of Islamic Law, Coulson punya sejumlah pendapat yang aneh-aneh tentang kekuatan As-Sunnah sebagai sumber hukum dan tentang ushul fiqih. Coulson mengatakan bahwa Imam Syafi’i adalah “founder” ‘penemu’ ushul fiqih. Sebuah pendapat yang tidak pernah dibenarkan oleh ahli-ahli ushul fiqih sendiri. Ia juga berpendapat bahwa kedudukan As-Sunnah sebagai pelengkap Al-Qur’an untuk menyelami kehendak Ilahi pertama kali dikemukakan oleh Imam Syafi’i. Sepintas lalu Coulson terkesan mengagumi kehebatan Imam Syafi’i (yang memang hebat, walapun tidak perlu dikagumi Coulson), tetapi ada suatu kesan terselubung dari ungkapan itu. Yakni, bahwa sebelum Imam Syafi’i ilmu ushul fiqih belum ada. Padahal, rentang waktu dua abad sebelumnya justru merupakan pondasi berdirinya “building” ushul fiqih pada fase-fase berikutnya. Pandangan Coulson itu mengesankan bahwa sebelum datangnya Imam Syafi’i, para fuqaha tidak memiliki kerangka berijtihad yang disepakati bersama. Jelas ini merupakan sebuah pemutarbalikkan fakta. Lalu, bagaimana dahulu para fuqaha selama dua ratus tahun menetapkan hukum bagi kasus-kasus yang terjadi dalam masyarakat Islam, kalau mereka tidak punya standar yang disepakati bersama? Apakah mereka harus menunggu selama dua abad tidak berijtihad, hingga Imam Syafi’i datang?

4. Banyak dari kajian-kajian orientalisme yang terkait erat dengan kepentingan negara-negara tertentu yang mendanai kajian itu. Percuma saja negara-negara Barat menghamburkan uangnya jutaan bahkan miliaran dollar hanya untuk kepentingan ilmiah semata, kalau bukan karena ada target-target tertentu yang sangat berharga bagi kepentingan mereka. Target itu bisa bersifat politis, bisnis, strategis, dan misi. Hal ini seperti pernah diungkap oleh Prof. Ismail al-Faruqi dalam sebuah artikelnya di majalah The Contemporary Muslim bahwa studi Islam di Barat, khususnya di Amerika Serikat, tidak pernah luput dari misi zionis dan salibis. Orientalis yang mengajar di jurusan itu, katanya, sebagian besar orang Yahudi atau Kristen fanatis. Di beberapa universitas Amerika, studi Islam ditempatkan di Fakultas Lahut (teologi), jurusan “misionarisme” dan materinya dikenal dengan “perbandingan agama”. Dosen-dosen yang ada di sana kerjanya mencari “titik-titik lemah” Islam untuk diserang. Oleh karena itu, kajian-kajian mereka banyak menyangkut aliran-aliran yang menyimpang. Misalnya, Syi’ah, Isma’iliyah, Tasawud (mistisisme), Ahmadiyah, an Baha’iyyah. Jika mereka belajar Al-Qur’an, hadits, dan fiqih, motivasinya adalah untuk mengkritik kebenaran materi-materi itu. Dan ultimate-goal-nya untuk mencari “titik-titik lemah”. Sebagai misal, tulis Faruqi, “Pusat Studi Perbandingan Agama” di Harvard berada di bawah Fakultas Teologi. Demikian juga di UniversitasChicago.

E. Pendapat Kelompok II tentang Orientalisme dalam Hukum Islam

Setelah kami mencermati tentang orientalisme dalam hukum islam, maka kami berpendapat bahwa orientalisme dalam bidang hukum Islam sangat berefek bagi ummat Islam sendiri, terutama dalam upaya dan usaha bagi ummat Islam untuk mengkaji lebih mendalam tentang hukum Islam, guna untuk mengkritisi hasil daripada kerja orientalis dalam menghasilkan karya-karya mereka yang terkait dengan hukum Islam dan kami rasa hal inilah yang menjadi penggerak bagi kaum muslimin untuk lebih memaknai dan mempraktekkan sumber hukum Islam (Al-quran dan Hadist) dalam hal Ekonomi, Politik dan Tekhnologi, mengingat orientalis menyerang Islam melalui bidang-bidang tersebut. Oleh karena itu selaku muslim, kita harus terus waspada, karena orientalis ini mempunyai dukungan yang kuat dari dunia barat khususnya dan mereka sudah sangat terorganisir untuk menghancurkan Islam, baik dari luar maupun dari dalam. Snouckh hroungje salah satu orientalis telah menerapkan suatu konsep bahwa Islam akan lebih mudah dihancurkan dari dalam, ia mencoba memecah belah kaum muslimin sehingga kekuatan kaum muslimin menjadi lemah.

Amerika sebagai Negara super power sangat takut jika orang-orang muslim sedunia ini bersatu, karena jika ummat Islam dunia sudah bersatu, maka tidak menutup kemungkinan masa keemasan Islam akan kembali terulang, oleh karena itu mereka terus berusaha untuk mencegah hal itu terjadi,  salah satunya melalui perang ideologi sebagaimana yang dilancarkan oleh para orientalis. Disamping itu mereka juga melancarkan perang melalui senjata dan menuduh bahwa Islam sebagai teroris dunia, anehnya PBB sebagai dewan perdamaian dunia, membenarkan hal tersebut. Adapun yang menjadi sasaran mereka adalah Negara-negara yang berdomisili di wilayah timur, khususnya timur tengah, hal ini terbukti dengan tindakan mereka menyerang Afganistan, menjatuhkan Saddam Hussein sebagai penguasa Irak saat itu dan yang memilukan hati mereka ikut turut serta membantu Israel menyerang palestina, namun pada tahun 2004 muncullah seorang orator Islam yang sangat berani yang tidak lain adalah presiden Iran dan kita tau bahwa Iran termasuk Negara yang berada diwilayah timur tengah, mungkin dengan adanya beliau semoga saja dapat membantu untuk mempersatukan ummat muslim untuk melawan para orientalis khususnya dan dunia barat umumnya melalui perkembangan IPTEK yang didasari atas dua sumber hukum Islam (Al-qur’an dan Hadits) yang selalu menjadi bahan kajian orientalis.

F. Kesimpulan

            Kajian Islam dibarat sudah mulai dikenal sejak awal abad ke 13, namun kemudian pada abad ke 19, para pengkaji lebih khusus mengkaji tentang hukum Islam. Salah satu tokoh peletak dasar kajian ini adalah Snouck Hurgronje dan Ignaz Goldziher, keduanyalah yang menjadi penggerak lahirnya dua kelompok pemikir utama dalam kajian hukum islam yaitu kelompok tradisionalis dan revisionis. Kelompok yang paling sering dibahas adalah revisionis, karena mereka selalu kontradiktif dengan fakta yang ada, yang kemudian mereka menggunakan teori-teori untuk mengkaji hukum Islam, namun meskipun mereka sudah berusaha semaksimal mungkin, akan tetapi mereka masih memiliki beberapa kelemahan yang sangat fundamental salah satunya adalah mereka selalu menganggap bahwa mereka adalah guru bagi orang-orang timur, selain itu mereka juga minim pengetahuan tentang bahasa arab, yang menjadi bahasa sumber hukum Islam(Al-qur’an dan Hadist)

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Amir, 2000,  Mencari Islam, Study Islam dengan Berbagai Pendekatan,Yogyakarta :PT.Tiara Wacana Jogja.

 

Juynboll, G.H.A.  2007,Teori Common Link,Yogyakarta : LKIS.

http//al-islamu.com//Diadaptasi dari Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam Sorotan, Daud Rasyid (Jakarta: Akbar, Media Eka Sarana, 2002)

 

http://majalah-elfata.com

http//forum swara muslim.net//

http//risalah hati.blogspot.com//                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                

 KATA KUNCI

 


[2] Ibid

[3] Amir Abdullah, Mencari Islam, Study Islam dengan Berbagai Pendekatan, (Yogyakarta ;PT.Tiara Wacana Jogja, 2000), hal 149

[4] http//forum swara muslim.net//

[5] Amir Abdullah, Op.cit, hal 150 sss

[6] http//risalah hati.blogspot.com//                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                

[7] G.H.A. Juynboll, Teori Common Link, (Yogyakarta : LKIS,2007) hal 59

[8] Ibid, hal 93

[9] Ibid, hal 153

[10] http//al-islamu.com//Diadaptasi dari Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam Sorotan, Daud Rasyid (Jakarta: Akbar, Media Eka Sarana, 2002), hlm. 117-125, 129, 131)


Perihal Afrizal WS Zaini
BIODATA Nama : Afrizal Woyla Saputra Zaini., S.IP Tempat/Tanggal Lahir : Seuradeuk/29 Juli 1990 Agama : Islam Jenis Kelamin : Laki-Laki Nama Orang Tua : - Ayah : Zaini Djambi (Alm) Ibu : Mariyah Alamat di Aceh : Ds. Seuradeuk Kec.Woyla Timur Kab. Aceh Barat Alamat di Malang : Asrama Mahasiswa Aceh, Jl. Bendungan Jatigede No. 03 Telp 0341-576156/HP 085277784400. Malang Pekerjaan : Wiraswasta Fak/Jurusan : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik/ Ilmu Pemerintahan Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang E-mail : awszaini@yahoo.com Twitter :@afrizalwoyla Riwayat Pendidikan : 1.Sekolah Dasar Negeri Meutulang : 1997-2003 2.Madrasah Tsanawiyah Negeri Peureumeu : 2003-2006 3.Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 6 Meulaboh : 2006-2009 4.Universitas Muhammadiyah Malang : 2009 - 2013 Pengalaman Organisasi : 1. Sekretaris Umum Ikatan Pelajar Pemuda & Mahasiswa Aceh (IPPMA) Malang 2009-2010, dan 2010-2011. 2. Sekretaris Asrama Mahasiswa Aceh Malang 2009-2010. 3. Ketua Panitia Pembangunan Asarama Aceh Malang Anggaran 2010 4. Ketua Umum Angkatan 2009 Jurusan Ilmu Pemerintahan UMM. 5. Ketua Departemen Politik Hukum Dan HAM Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UMM 2010 - 2011. 6. Anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FISIP UMM. 7. Anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat FISIP UMM. 8. Sekretaris Panitia Day Of Tsunami ” Masa Depan Aceh Pasca Tsunami” Tahun 2009. 9. Anggota Paskibraka Kabupaten Aceh Barat Angkatan 63 Tahun 2008. 10. Anggota Nasional Demokrat DPC Kabupaten Aceh Barat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: