TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN

TANGGUNGJAWAB PEMIMPIN DALAM MENGATUR

Oleh: Afrizal Woyla Saputra Zaini

BAB I

PENDAHULUAN

 

Gelar pemimpin umat adalah layak diberikan kepada mereka yang mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi umat itu dan menghantarkannya dengan selamat sampai pada tujuan yang dicita-citakan. Orang yang menghantarkan tidak harus berjalan di depan, kadang-kadang disamping, di tengah, di mana saja menurut jalan keadaan jalannya, diperlukan guna keselamatan orang yang diantarkannya.

Tidak hanya sekedar mengantar para anggotanya agar sampai pada tujuan yang diharapkannya. Seorang pemimpin juga harus memilki suatu komitmen yang didukung oleh kemampuan, integritas, kepekaan terhadap perubahan dan perkembangan yang terjadi di sekelilingnya dan juga dia memiliki keberanian untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.

Namun dewasa ini kalau kita melihat realita yang ada sulit sekali kita mendapati pemimpin yang memiliki kriteria yang telah disebutkan di atas. Banyak pemimpin kita yang sudah tidak lagi mementingkan nasib dan kemauan rakyat. Mereka hanya mementingkan ego pribadi demi mementingkan kesejahteraan bagi dirinya sendiri dan keluarganya. Mereka tidak pernah tahu kalau suatu saat kepemimpinannya bakal dipertanggungjawabkan di kemudian hari. Adanya hal semacam ini dikarenakan lemahnya tingkat keimanan seorang pemimpin sehingga dia mudah terpengaruh oleh hal-hal yang negatif.

Berangkat dari kenyataan yang terjadi tersebut, maka perlu adanya reformulasi ulang terhadap bagaimana cara menjadi pemimpin yang senantiasa bertanggung jawab terhadap rakyatnya dan mampu melayani masyarakat dengan baik dan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh agama. Melalui pembacaan hadis, makalah yang kami buat berusaha menyajikan suatu pemahaman terhadap bagaimana mencetak pemimpin yang bertanggung jawab dan mampu memberikan pelayanan terhadap masyarakat secara baik.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Pengertian

Disebutkan dalam kamus lisanul arab, kata al-qaudu ”memimpin atau menuntun” lawan kata dari as-sauqu ”menggiring”, seperti perkataan menuntun binatang dari depan dan menggiring binatang dari belakang. Dalam makna bahasa ini terdapat isyarat yang menarik. Intinya, posisi pemimpin adalah di depan agar menjadi petunjuk bagi anggota-anggotanya dalam kebaikan dan menjadi pembimbing bagi mereka kepada kebenaran.

Pengertian pemimpin secara umum adalah orang yang mampu membimbing, mengontrol dan mempengaruhi pikiran, perasaan dan tingkah laku seseorang. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa pemimpin merupakan seseorang yang menyebabkan seseorang atau kelompok lain untuk bergerak menuju ke arah tujuan-tujuan tertentu sehingga ia memiliki tanggung jawab agar orang yang dipimpinnya dapat meraih tujuan yang akan dicapainya.

Sedangkan pengertian dari kepemimpinan adalah suatu proses yang membutuhkan tanggung jawab dalam membimbing, mengontrol dan mempengaruhi pikiran, perasaan dan tingkah laku seseorang ataupun kelompok sehingga dapat mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan akan membawa seseorang atau kelompok tersebut menuju ke arah yang lebih baik dan selalu berada dalam jalan kebenaran.[1] Hal ini sesuai dengan apa yang pernah disabdakan Rasulullah dalam sebuah hadis yang berbunyi:

عن بن عمررضي الله عنه, سمعت رسو ل الله صلى الله عليه وسلم يقول: كلكم راع, ومسئول عن رعيته, الإمام راع, ومسئول عن رعيته, والرجل راع في أهله, ومسئول عن رعيته, والمرأة راعية في بيت زوجها ومسئولة عن رعيتها, والخادم راع في مال سيده ومسئول عن رعيته.

Dari ibnu Umar RA, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘’Setiap kalian adalah seorang pemimpin dan bertanggungjawab terhadap kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin yang bertanggung jawab terhadap kepemimpinanya, seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya, seorang  wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya, seorang pelayan adalah seorang pemimpin pada harta majikannya dan dia bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya.”(HR. Muttafaq ‘alaih)[2]

B. Sebab-Sebab Timbulnya Pemimpin

            Berdasarkan analisis empiris dapat dikemukakan bahwa ada beberapa penyebab timbulnya pemimpin dalam perkembangan masyarakat baik modern maupun tradisional yaitu:

  1. Sebagai polarisasi dari terbentuknya suatu kelompok yang berawal dari bersatunya individu-individu yang memiliki perbedaan-perbedaan kemudian membentuk suatu komunitas tertentu karena adanya suatu sikap saling membutuhkan satu sama lain dalam rangka mencapai kehidupan yang aman, tentram, damai dan lebih baik sesuai dengan jalan kebenaran
  2. Sebagai pencerminan kemampuan seseorang yang dapat dilihat melalui kepribadian, komitmen, kemampuan intelektual, integritas, kepekaan terhadap perubahan situasi, kondisi, zaman serta tempat dan kemampuannya dalam mencapai tujuan-tujuan sehingga orang dapat memberikan penilaian terhadap dia dan menjadikan reputasinya naik menjadi orang yang dipercaya sebagai pemimpin.
  3. Sebagai jawaban dari faktor-faktor situasional dan kondisional seperti keturunan, kejiwaan ataupun lingkungan yang memungkinan seseorang dipercaya untuk membina sebuah komunitas masyarakat dalam mencapai suatu tujuan tertentu.[3]

C.  Kepribadian Pemimpin

Pada hakekatnya, seorang pemimpin yang brilliant adalah seorang pemimpin yang memiliki segala sifat kepemimpinan yang diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Keberanian

Keberanian adalah kemampuan batin yang mengakui adanya rasa takut, akan tetapi mampu menghadapi bahaya atau rintangan dengan tenang dan tegas atau dapat dikatakan bahwa keberanian adalah kemampuan berpikir yang memungkinkan seseorang dapat menguasai tingkah lakunya dan dapat menerima tanggung jawab serta dapat mudah bertindak dalam keadaan bahaya. Rasulullah pernah bersabda: ”Sesungguhnya manusia itu seperti unta, dalam seratus unta belum tentu terdapat unta raahilah” (HR. Bukhari). Unta raahilah adalah unta yang kuat dan dapat berjalan kuat. Unta seperti ini susah didapatkan. Begitu pula unsur kepemimpinan dalam jiwa seseorang. Kita jarang memiliki seorang pemimpin yang berwibawa, pemberani, konsisten, memiliki sifat yang lurus.

2. Menguasai Permasalahan

Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan dalam bidang yang dipimpinnya. Ia tahu benar akan seluk-beluk bidang kegiatannya, baik dari dalam maupun dari luar. Ia memang melakukan spesialisasi dalam bidang itu. Meskipun sifatnya hanya mengkoordinir, akan tetapi tetap harus mengetahui bidang gerak yang dipimpinnya. Rasulullah pernah bersabda: “Bila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka nantikan saat kehancuran”.

3. Kredibilitas

Dunia tidak akan menjadi aman dan makmur, apabila keadilan tidak dijadikan neraca dalam hubungan-hubungan kemanusiaan di segala bidang Islam tidak membenarkan adanya dominasi yang kuat terhadap yang lemah dan hak asasi manusia tidak boleh hilang karena semata-mata dunia sudah biasa dihadapkan pada tindakan-tindakan yang zalim. Hidup berdampingan dapat aman dan tentram dapat terwujud apabila keadilan dan kebenaran ditegakkan. Semua dasar-dasar kemanusiaan seperti toleransi, kemerdekaan dan lain-lain hanya dapat hidup di bawah naungan keadilan. Oleh karena itu, rasulullah menyarankan agar mencari seorang pemimpin yang memiliki sikap yang adil dalam memutuskan setiap permasalahan. Beliau pernah bersabda :

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يوم من إمام عادل أفضل من عبادة ستين سنة, و حد يقام في الأرض بحقه أزكي لمن فيها من مطر أربعين صباحا

Dari ibnu Abbas RA, ia berkata, ”Rasulullah SAW bersabda, “Satu hari bagi seorang pemimpin yang adil lebih baik daripada ibadah selama enam puluh tahun dan hukuman yang ditegakkan di muka bumi secara benar lebih suci bagi penduduk yang ada padanya daripada hujan selama empat puluh hari di pagi hari”. (HR. at-thabranidi dalam al-Kabir dan al-Ausath. Sanad yang terdapat dalam al-Kabir adalah hasan dan diriwayatkan pula oleh al-Ashbahani dari hadis abu Hurairah dengan lafadz, “keadilan satu hari lebih baik daripada ibadah enam puluh tahun, melakukan shalat pada malam hairi dan berpuasa di siang harinya” dan dia menambahkan, ”Wahai abu Hurairah, kelaliman sesaat dalam memberikan hukum lebih berat  dan lebih besar di sisi Allah daripada kemaksiatan selama enam puluh tahun.”)[4]

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ثلا ثة لاترد دعوتهم: الصائم حين يفطر, والإمام العادل, والمظلوم

Dari abu Hurairah RA,, ia berkata,”Rasulullah saw bersada,”Tiga golongan yang tidak akan ditolak doanya, yaitu: orang yang puasa saat berbuka, pemimpin yang adil dan orang yang teraniaya.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Khuzaimah dan ibnu Hibban)[5]

            Selain sikap adil seorang pemimpin juga harus melmiliki suatu sikap jujur. Karena kejujuran merupakan salah satu instrument bagi terciptanya kemakmuran rakyat. Dengan sifat jujur seorang pemimpin akan dipercaya oleh rakyat sebagai pengemban amanah yang baik. jujur berati ada persesuaian antara perbuatan dan tindakan sehingga dalam menggunakan haknya dia tidak berlebihan. Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa menduduki suatu jabatan dan tidak mempunyai seorang istri, hendaknya memperistri seorang wanita, dan apabila dia tidak memiliki seorang pelayan, hendaklah ia mengambil seorang pelayan, dan barangsiapa tidak memiliki rumah kediaman, atau ia tidak memiliki binatang tunggangan, hendaknya dia mengambilnya. Dan setelah itu, barangsiapa mengambil lebih dari itu, maka ia adalah seorang koruptor atau seorang pencuri.”

4. Percaya diri

Keyakinan pemimpin akan keahlian dan potensinya dalam meraih tujuan dan bertindak dengan cara yang membuat para pengikut percaya pada kemampuannya.

5. Motivasi

Keinginan dari dalam diri yang dimiliki seorang pemimpin untuk menggunakan kekuatannya dalam menggerakkan seseorang mencapai tujuan-tujuan mereka dengan menggunakan hubungan sosial dan kemanusiaan. Motivasi dapat disampaikan dengan cara maknawi maupun dengan cara-cara materi, seperti kisah rasulullah yang memberikan kambing yang banyak kepada seorang laki-laki, maka orang itu pulang kepada kaumnya kemudian berkata kepada mereka, ”Wahai kaum! Masuklah islam, karena Muhammad memberikan pemberian yang ia tidak takut miskin karenanya.” (HR. Muslim)

6. Pengawasan diri

Pemimpin yang efektif memiliki kontrol diri yang memungkinkan untuk merasakan setiap perubahan yang ada di sekitarnya walaupun sangat kecil dan mengubah kebijakannya agar sesuai dengan keadaan di sekitarnya.[6]

D. Urgensi Adanya Kepemimpinan

Rasulullah saw. mengingatkan kita bahwa: Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan pakarnya, maka tunggulah kehancurannya. Ini berarti bahwa tidak semua orang mempunyai skills dalam segala perkara, setiap urusan ada orang-orang tertentu yang telah dikaruniai Allah untuk menguasai termasuk perkara kepemimpinan. Apalagi jika dikaitkan dengan upaya Islamisasi khususnya di kalangan umat Islam sendiri.[7]

Dari penjelasan di atas kita merasakan urgensi dan pentingnya pemimpin yang efektif melelui lima poin berikut:     

  1. Kepemimpinan harus ada dalam kehidupan sehingga kehidupan bisa teratur dengan rapi, keadilan bisa ditegakkan dan kesewenang-wenangan yang kuat terhadap yang lemah bisa dihalang-halangi.
  2. Mendukung tingkah laku yang positif dan mengeliminasi hal-hal yang negatif. Dalam hal ini, pemimpin bertindak sebagai kapten kapal.
  3. Membuat strategi yang terpadu dalam proses penggerakan yang dinamis menuju tujuan yang mulia.
  4. Menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada disekitarnya dan memanfaatkan perubahan untuk kepentingan organisasi
  5. Mengembangkan, melatih dan menjaga anggota.[8]

E. Tanggung Jawab Pemimpin Dalam Melayani Masyarakat     

Islam adalah agama yang sempurna, di antara kesempurnaan Islam ialah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik yang berhubungan dengan Allah Swt (Hablum minallah) maupun hubungan dengan manusia (Hablumminannas), termasuk di antaranya masalah kepemimpinan di pemerintahan.

Karena kepemimpinan merupakan suatu amanah maka untuk meraihnya harus dengan cara yang benar, jujur dan baik. Dan tugas yang diamanatkan itu juga harus dilaksanakan dengan baik dan bijaksana. Karena itu pula dalam menunjuk seorang pemimpin bukanlah berdasarkan golongan dan kekerabatan semata, tapi lebih mengutamakan keahlian, profesionalisme dan keaktifan.

Kepemimpinan di satu sisi dapat bermakna kekuasaan, tetapi di sisi lain juga bisa bermakna tanggungjawab. Ketika kepemimpinan dimaknai sebagai kekuasaan, Allah SWT.mengingatkan kita bahwa hakikat kekuasaan itu adalah milik Allah SWT. Allah SWT yang memberi kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah pula yang mencabut kekuasaan dari siapa pun yang dikehendaki-Nya (lihat : al-Qur’an surat Ali Imran : 26).

Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Adanya kesadaran seorang mu’min terhadap hal ini memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kepribadiannya, ketika ia memegang kekuasaan, ia akan tetap bersikap rendah hati, tidak ada keangkuhan dalam dirinya sedikit pun, tidak akan menyelewengkan kekuasaannya dalam bentuk apa pun, dan ia gunakan kekuasaannya itu sebagai alat untuk menghambakan dirinya dan alat untuk mencapai ridha Allah SWT. Sehingga ia akan betul-betul melaksanakan amanah dan tanggung jawab jabatannya seoptimal mungkin untuk kepentingan masyarakat, bukannya untuk memenuhi kepentingan-kepentingannya pribadi maupun golongan-golongan tertentu saja. Karena, dalam kehidupan bermasyarakat, diperlukan adanya pemimpin yang mengatur, membawahi, dan mengarahkan kehidupan masyarakat itu. Pemimpin harus menjadi abdi masyarakat. Dia harus melayani dan menjadi fasilitator bagi keperluan-keperluan rakyat.[9]

Dalam Islam, hampir semua ulama menyepakati bahwa pemimpin adalah abdi masyarakat. Sebab, kepemimpinan sesungguhnya adalah suatu amanah (titipan) yang setiap saat harus dipertanggungjawabkan dan diambil wewenangnya. Amanah itu diperoleh dari Allah SWT lewat pemilihan yang dilakukan oleh manusia, kecuali para Nabi dan Rasul yang langsung dipilih oleh Allah. Oleh karena itu, dalam melaksanakan amanah, manusia diharapkan senantiasa berbuat baik dan bertanggung jawab. Jika manusia bisa menyadari bahwa kepemimpinan adalah amanah, maka mereka tidak akan berebut kekuasaan dengan temannya sendiri, atau memaksakan diri untuk menjadi pemimpin demi keuntungan materi semata.

            Substansi kepemimpinan dalam perspektif Islam merupakan sebuah amanat yang harus diberikan kepada orang yang benar-benar “ahli”, berkualitas dan memiliki tanggungjawab yang jelas dan benar serta adil, jujur dan bermoral baik. Inilah beberapa kriteria yang Islam tawarkan dalam memilih seorang pemimpin yang sejatinya dapat membawa masyarakat kepada kehidupan yang lebih baik, harmonis, dinamis, makmur, sejahtera dan tentram.

Di samping itu, pemimpin juga harus orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. karena ketaqwaan ini sebagai acuan dalam melihat sosok pemimpin yang benar-benar akan menjalankan amanah. Bagaimana mungkin pemimpin yang tidak bertaqwa dapat melaksanakan kepemimpinannya dengan baik? Karena dalam terminologinya, taqwa diartikan sebagai melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Taqwa berarti ta’at dan patuh, yakni takut melanggar atau mengingkari dari segala bentuk perintah Allah SWT.
         Manusia diciptakan oleh Alah SWT di dunia ini dengan misi untuk mengabdi atau beribadah dan menjadi khalifah di bumi Allah SWT ini. Misi kekhalifahan adalah misi yang sangat mulia, karena ia menjadi sarana guna melakukan hal-hal yang bermakna dan menyejahterakan sesamanya. Oleh sebab itu, amanah menjadi hal sangat vital yang harus ditanamkan dan dijadikan pedoman dalam menjalankan aktivitas kepemimpinan seseorang.
               Amanah juga menjadi salah satu prinsip kepemimpinan yang dimiliki Nabi Muhammad SAW. Sebagai pemimpin umat, Nabi SAW memiliki empat ciri kepemimpinan: shidiq (jujur), fathanah (cerdas dan berpengetahuan), amanah (dapat dipercaya), dan tabligh (berkomunikasi dan komunikatif dengan bawahannnya dan semua orang).

            Sifat-sifat Nabi SAW itu tecermin pada kebijakan dan tingkahlaku beliau sehari-hari, baik sebagai pemimpin agama sekaligus pemimpin masyarakat dan negara. Sifat kepemimpinan beliau dan Khulafaur Rasyidin dapat dijadikan cermin oleh semua pemimpin. Mereka senantiasa mengabdi, menerima keluh kesah, memfasilitasi, dan siap menjadi “budak” rakyatnya, bukannya menjadi “tuan” bagi masyarakatnya. [10]

            Seorang pemimpin yang ideal tentu saja adalah yang selalu berpegang teguh pada akhlak kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dan Khulafaur Rasyidin. Kisah Umar bin Khattab atau Umar bin Abdul Azis yang rela tidak makan sebelum rakyatnya makan, rela tidak tidur sebelum rakyatnya tidur, tidak mau menggunakan fasilitas negara di luar jam kerja untuk kepentingan keluarga, memberikan contoh hidup sederhana dan dermawan, adalah sebuah tipe kepemimpinan yang ideal. Mereka mempunyai moralitas dan budi pekerti yang luhur.

            Selain itu, seorang pemimpin yang ideal haruslah mampu bekerja secara profesional, visioner, kreatif dan punya kemampuan berstrategi, berani, serta mampu menjadikan team work yang dipimpinnya menjadi solid dan berkualitas. Dengan kata lain, kita sangat mengharapkan adanya pemimpin yang mampu menjadikan masyarakat berubah menjadi lebih baik dalam segala sisi kehidupannya yang diberkahi oleh Allah SWT karena adanya pemimpin yang mampu mendorong masyarakatnya menuju peningkatan penghambaan umat manusia kepada Sang Khaliq. [11]

            Ketahuilah bahwa  kamu sekalian adalah gembala, dan kamu sekalian akan dimintai pertanggungjawaban mengenai gembalaannya. Seorang pemimpin tertinggi adalah gembala bagi rakyatnya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai rakyatnya. (HR. Bukhari)

عن أبي ذررضي الله عنه قال: قلت: يارسول الله,ألا تستعملني؟ قال: فضرب بيده على منكبي, ثم قال: يا أبا ذر, إنك ضعيف وإنها أمانة, وإنها يوم القايمة خزي, وندامة إلا من أخذهابحقها, وأدى الذي عليه فيها

Dari abu Dzar RA, ia berkata, ”Aku pernah berkata, wahai rasulullah tidakkah engkau memberi jabatan kepadaku?” ia berkata, ”Maka beliau memukul pundakku dengan tangannya dan berkata, ”Wahai Abu Dzar sesungguhya engkau adalah orang yang lemah, sedangkan jabatan adalah amanah, dan ia di hari kiamat merupakan suatu bencana serta  penyesalan kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikannya sesuai yang wajib atasnya dirinya” (HR. Muslim)[12]

Jadi pemimpin seperti apa yang sebaiknya diangkat di era seperti sekarang ini? Secara umum Al-Qur’an sudah memberikan gambaran kriteria pemimpin yag harus dipilih, yaitu seperti yang ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya yang artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (sesudah Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shaleh” (QS Al-Anbiya’ :105). Jadi yang mendapat mandat mengurusi manusia beserta isinya dimuka bumi ini sesuai rekomendasi Allah SWT ternyata hanyalah orang-orang shaleh, bukan orang-orang yang suka membuat kerusakan di


BAB III

KESIMPULAN

  

Islam adalah agama yang sempurna, di antara kesempurnaan Islam ialah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik yang berhubungan dengan Allah Swt (Hablum minallah) maupun hubungan dengan manusia (Hablumminannas), termasuk di antaranya masalah kepemimpinan di pemerintahan.

Karena kepemimpinan merupakan suatu amanah maka untuk meraihnya harus dengan cara yang benar, jujur dan baik. Dan tugas yang diamanatkan itu juga harus dilaksanakan dengan baik dan bijaksana. Karena itu pula dalam menunjuk seorang pemimpin bukanlah berdasarkan golongan dan kekerabatan semata, tapi lebih mengutamakan keahlian, profesionalisme dan keaktifan.   

Dalam Islam, pemimpin adalah abdi masyarakat. Sebab, kepemimpinan sesungguhnya adalah suatu amanah (titipan) yang setiap saat harus dipertanggungjawabkan dan diambil wewenangnya. Amanah itu diperoleh dari Allah SWT lewat pemilihan yang dilakukan oleh manusia, kecuali para Nabi dan Rasul yang langsung dipilih oleh Allah. Oleh karena itu, dalam melaksanakan amanah, manusia diharapkan senantiasa berbuat baik dan bertanggung jawab. Jika manusia bisa menyadari bahwa kepemimpinan adalah amanah, maka mereka tidak akan berebut kekuasaan dengan temannya sendiri, atau memaksakan diri untuk menjadi pemimpin demi keuntungan materi semata.


[1] Abul A’la Al-Maududi, Khalifah dan Kerajaan (Bandung:Karisma. 2007) 374

[2] Al Hafizh Syihabbuddin Ahmad bin Ali bin Hajar Al Asqalani, Ringkasan Targhib wa Tarhib (Jakarta; Pustaka Azzam, 2006), 525

[3] Khatib Pahlawan Kayo, Kepemimpinan Islam dan Dakwah (Jakarta: AMZAH, 2005), 225-226

[4] Ibid. Hal. 525

[5] Ibid. Hal. 525

[6] Ibnu Taimiyah, Tugas Negara Menurut Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar., 2004), 360

[7] Op.Cit

[8] Thariq M As-Suwaidan dan  Faishal Umar Basyarahil, Melahirkan Pemimpin Masa Depan (Jakarta: Gema Insani, 2005), 301

[10] http://www. Suara karya.online.com

[12] Ibid. Hal. 525

Perihal Afrizal WS Zaini
BIODATA Nama : Afrizal Woyla Saputra Zaini., S.IP Tempat/Tanggal Lahir : Seuradeuk/29 Juli 1990 Agama : Islam Jenis Kelamin : Laki-Laki Nama Orang Tua : - Ayah : Zaini Djambi (Alm) Ibu : Mariyah Alamat di Aceh : Ds. Seuradeuk Kec.Woyla Timur Kab. Aceh Barat Alamat di Malang : Asrama Mahasiswa Aceh, Jl. Bendungan Jatigede No. 03 Telp 0341-576156/HP 085277784400. Malang Pekerjaan : Wiraswasta Fak/Jurusan : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik/ Ilmu Pemerintahan Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang E-mail : awszaini@yahoo.com Twitter :@afrizalwoyla Riwayat Pendidikan : 1.Sekolah Dasar Negeri Meutulang : 1997-2003 2.Madrasah Tsanawiyah Negeri Peureumeu : 2003-2006 3.Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 6 Meulaboh : 2006-2009 4.Universitas Muhammadiyah Malang : 2009 - 2013 Pengalaman Organisasi : 1. Sekretaris Umum Ikatan Pelajar Pemuda & Mahasiswa Aceh (IPPMA) Malang 2009-2010, dan 2010-2011. 2. Sekretaris Asrama Mahasiswa Aceh Malang 2009-2010. 3. Ketua Panitia Pembangunan Asarama Aceh Malang Anggaran 2010 4. Ketua Umum Angkatan 2009 Jurusan Ilmu Pemerintahan UMM. 5. Ketua Departemen Politik Hukum Dan HAM Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UMM 2010 - 2011. 6. Anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FISIP UMM. 7. Anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat FISIP UMM. 8. Sekretaris Panitia Day Of Tsunami ” Masa Depan Aceh Pasca Tsunami” Tahun 2009. 9. Anggota Paskibraka Kabupaten Aceh Barat Angkatan 63 Tahun 2008. 10. Anggota Nasional Demokrat DPC Kabupaten Aceh Barat.

6 Responses to TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN

  1. ahsan bahsri mengatakan:

    keren sekali,, terimakasih atas postingnya

  2. Puput mengatakan:

    keren

  3. zivian mengatakan:

    keren

  4. Putri mengatakan:

    keren x ni kak

  5. Lieya mengatakan:

    saya suka banget sama tulisan ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: