KOMFLIK DI ACEH MENINGGALKAN BEKAS

KONFLIK ACEH MELAHIRKAN

PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA (HAM)

Oleh: Afrizal Woyla Saputra Zaini

A. Latar Belakang Masalah

Peristiwa konflik yang melanda Aceh sejak tahun 1976 sampai tahun 2005, terjadi berbagai pelanggaran HAM, pembantaian dilakukan dengan cara-cara tidak manusiawi mengakibatkan pembunuhan merajalela, seperti pada tahun 1989 yang sangat bersejarah ketika Aceh diberlalakukan sebagai Daerah Oprasi Militer (DOM) yang dikhususkan oleh Presiden Soeharto, membuat rakyat Aceh kehausan hukum, tidak sedikit wanita diperkosa, anak-anak dibunuh dan ulama juga ikut dimusnahkan dengan hukum yang mereka bawa sendiri, penyelsaian konflik yang sangat  tidak bermoral mengisahkan berbagai pertanyaan, mulai dari proses hukum sampai pada pada proses HAM , suara ledakan bom dan letusan senjata, terjadi bagaikan lantunan musik yang tak pernah putus.

Tujuan penilisan makalah ini adalah agar dapat memahami bagaimana persoalan konflik yang terjadi di Aceh,  sehingga muncul berbagai pelanggaran HAM.

B. Pembahasan

1. Secara Fakta

Konflik adalah hal yang wajar dilakukan oleh Masyarakat Aceh, apalagi ketika rakyat merasakan keadilan ditindas dan dimanipulasi oleh pemerintah sendiri, padahal  jika dikaji dengan sejarah Aceh merupakan daerah yang sangat berjasa untuk merebut kemerdekaan RI, pengorbanan Aceh tecurahkan dalam berbagai bentuk mulai dari tenaga, jiwa sampai  harta benda, salah satu buktinya adalah adanya pesawat RI pertama  dan juga terbentukanya kedutaan besar  pertama yaitu di Malaysia dan Australia. Sumbangan tersebut  merupakan hasil loyalitas rakyat yang ingin melihat kebebasan dinegeri ini.

Tuntutan Aceh terhadap pemerintah Republik Indonesia hanyalah hak mengurus rumah tangga sendiri sesuai syariat islam yang telah dijanjikan oleh Soekarno pada tgl 16 Juni 1948, tetapi janji Soekarno bagaikan mimpi yang tidak terpenuhi. Sehingga muncul berbagai gerakan yang menuntut keadilan.

Lebih jelas muculnya Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada tahun 1976 adalah kenyataan perlawanan Aceh dengan pemerintah Republik Indonesia, GAM  merupakan gerakan garis keras yang menuntut kebebasan,  dengan gerilnya peperangan dilakukan membuat masyarakat sipil ketakutan dan bahkan tidak sedikit darah ditumpahkan di Bumi Serambi Makkah itu, harta, tahta dan nyawa yang tidak berdosapun ikut hilang akibat ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab, hukum ada hanya dijadikan sebagai simbol, yang tidak bisa dirasakan oleh rakyat aceh pada saat itu.

Rentetan  konflik terus memanas ketika Soeharto menetapkan Daerah Oprasi Militer (DOM) pada tahun 1989, tentara-tentara yang dikirim bagaikan setan yang turun dari neraka, Kita ingat betul, bagaimana nasib sebagian masyarakat Aceh di masa DOM. Pelanggaran HAM dalam aneka kemasan simbol, menjadi rahasia umum di Serambi Makkah.

Sekitar 10 sampai 12 ribu korban tewas dimasa itu, atau dihilangkan,  Pemerkosaan, perampokan dan aneka simbol kekerasan dan kejahatan lainnya, dituduhkan awam sebagai dilakukan aparat keamanan RI, lebih sedih ketika sejarah seorang Ibu diperkosa didepan Anaknya dan disaksikan oleh Ayahnya, dan perlakuan seperti itu tidak sedikit dialamai oleh masyarakat Aceh pada masa DOM, salah satu saksi bisu rumah gedung ”rumoh geudong” adalah bukti sejarah bejatnya aparat keamaan yang dikirim oleh pemerintah RI, dengan etika-etika yang tidak bermoral ditampilkan membuat nama Serambi Makkah keliru, daerah yang seharusnya dibela, tetapi HAM diinjak-injak. Selama sembilan tahun masyarakat Aceh merasakan suasana DOM  yang tidak pernah dilupakan sejarahnya, DOM  adalah masa konflik yang terparah dalam jangka waktu 29 tahun. Dengan kepuasan pemerintah akhirnya pada tahun 1998 DOM dicabut, ditambah dengan penindasan HAM membuat rakyat  semakin tegas sesuai tuntutannya, dan kemauan rakyat dalam menuntut keadilan semakin berkibar, bahkan nyawapun siap untuk dikorbankan.

Ketika DOM  berakir  sejarah konflik Aceh terus digubrik oleh ketidak adilan HAM, pembantaian terjadi juga tidak ujung reda, bahakan berbagai operasi terus turunkan, seperti Operasi Sadar Wibawa, Operasi Sadar Rencong I, II, III, Operasi Meunasah, Operasi Pemulihan Keamanan, seperti Peristiwa Idi Cut (Aceh Timur), Tragedi Beutong Ateuh (Tengku Bantaqiah), Tragedi Simpang KKA, Peristiwa Gedung KNPI, dll. Dari berbagai hasil laporan investigasi dapat dikalkulasikan bahwa dari bulan Januari 1999 sampai September 2002 tercatat: pembunuhan diluar proses hukum sebanyak 2.058 korban, penghilangan paksa 533 korban, penyiksaan 2.946 korban dan penahanan sewenang-wenang 1600 korban, Jumlah korban yang sangat spektakuler dalam 3 tahun 8 bulan, itu semua adalah bukti pelanggaran HAM yang terjadi pada konflik Aceh.

Selama 29 tahun Aceh terus diombak ambik oleh kecurangan pemerintah RI yang menghacurkan kedamaian dan menindas keadilan, begitu banyaknya lahir Yatim dan Janda akibat pelanggaran HAM yang terjadi pada masa itu, tapi kondisi tersebut tidak pernah dihiraukan oleh pemerintah sendiri, kapedulian yang diharap-harapkan oleh rakyat akirnya muncul setelah kehancuran terjadi.

2. Secara Teoritis

  • Menurut Max Weber didefinisikan perang dapat berubah menjadi semacam perbuatanan terorisme yang dilakukan oleh negara atau kelompok yang dapat menjadi salah satu bentuk kekerasan, dan dapat melanggar aturan.
  • Dalam buku teori-teori politik, konflik dapat menimbulkan kerusuhan, kekerasan, dan pembunuhan.
  • Menurut Palto konplik dapat menimbulkan  perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam, benci, saling curiga, sehingga terjadi kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia.


C. Daftar Pustaka

  1. Hadat, Ismail.1982. Kebudayaan Politik dan Keadilan Sosial. Jakarta: LP3ES.
  2. Imam Hidajat. 2009. Teori-Teori Politik. Malang: SETARA Press.
  3. Taufik Al Mubarak.2008. Aceh Pungo.Banda Aceh: BANDAR Publishing
  4. Internet. 2010. Konflik Aceh. Malang
  5. Internet. 2010. Aceh Bersimbah Darah. Malang

 

 

Perihal Afrizal WS Zaini
BIODATA Nama : Afrizal Woyla Saputra Zaini., S.IP Tempat/Tanggal Lahir : Seuradeuk/29 Juli 1990 Agama : Islam Jenis Kelamin : Laki-Laki Nama Orang Tua : - Ayah : Zaini Djambi (Alm) Ibu : Mariyah Alamat di Aceh : Ds. Seuradeuk Kec.Woyla Timur Kab. Aceh Barat Alamat di Malang : Asrama Mahasiswa Aceh, Jl. Bendungan Jatigede No. 03 Telp 0341-576156/HP 085277784400. Malang Pekerjaan : Wiraswasta Fak/Jurusan : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik/ Ilmu Pemerintahan Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang E-mail : awszaini@yahoo.com Twitter :@afrizalwoyla Riwayat Pendidikan : 1.Sekolah Dasar Negeri Meutulang : 1997-2003 2.Madrasah Tsanawiyah Negeri Peureumeu : 2003-2006 3.Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 6 Meulaboh : 2006-2009 4.Universitas Muhammadiyah Malang : 2009 - 2013 Pengalaman Organisasi : 1. Sekretaris Umum Ikatan Pelajar Pemuda & Mahasiswa Aceh (IPPMA) Malang 2009-2010, dan 2010-2011. 2. Sekretaris Asrama Mahasiswa Aceh Malang 2009-2010. 3. Ketua Panitia Pembangunan Asarama Aceh Malang Anggaran 2010 4. Ketua Umum Angkatan 2009 Jurusan Ilmu Pemerintahan UMM. 5. Ketua Departemen Politik Hukum Dan HAM Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UMM 2010 - 2011. 6. Anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FISIP UMM. 7. Anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat FISIP UMM. 8. Sekretaris Panitia Day Of Tsunami ” Masa Depan Aceh Pasca Tsunami” Tahun 2009. 9. Anggota Paskibraka Kabupaten Aceh Barat Angkatan 63 Tahun 2008. 10. Anggota Nasional Demokrat DPC Kabupaten Aceh Barat.

2 Responses to KOMFLIK DI ACEH MENINGGALKAN BEKAS

  1. gahran mengatakan:

    mantap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: