PEMBERDAYAAN NELAYAN PANCING TRADISIONAL

PEMBERDAYAAN NELAYAN PANCING TRADISIONAL

Oleh: Afrizal Woyla Saputra Zaini

 

BAB I

A. Latar Belakang Masalah

Nelayan pancingan adalah nelayan yang menangkap ikannya dengan cara tradisional yaitu pancingan, nelayan ini pada umumnya berlatar belakang masyarakat yang kurang mampu, hidupan sehari-hari mereka adalah dari hasil penangkapan.

Proses yang mereka lakukan juga terhitung masih sangat tradisional, dan hasilnya punsangat jauh bila di bandingkan dengan nelayan moderen.

Nelayan-nelayan ini merupakan tanggung jawab pemerintah daerah, namun demikian pemerintah daerah setempat belum dengan sepenuhya memperhatikan kesejahteraan nelayan pancingan tradisional, hal ini dapat di lihat dari hasil tangkapan yang sangat minim.

Kehidupan bermayarakat nelayan pancingan tradisional tersebut sangat rukun walaupun dengan keadaan ekonomi mereka yang masih di bawah kata sejahtera, namun hal ini tidak menutup mereka untuk hidup rukun. Para pakar ekonomi sumberdaya  melihat kemiskinan masyarakat pesisir, khususnya nelayan lebih banyak disebabkan karena faktor-faktor sosial ekonomi yang  terkait karakteristik sumberdaya serta teknologi yang digunakan.

Faktor-faktor yang dimaksud membuat sehingga nelayan tetap dalam kemiskinannya. Smith (1979)  yang mengadakan kajian pembangunan perikanan di berbagai negara Asia serta    Anderson (1979) yang melakukannya di negara-negara Eropa dan Amerika Utara  tiba pada kesimpulan bahwa kekauan aset perikanan (fixity and rigidity of fishing assets) adalah asalan utama kenapa nelayan tetap tinggal atau bergelut dengan  kemiskinan.

B. Rumusan Masalah

Dari penjelasan diatas, maka dapat dirumuskan pada konsep peper dibawah ini, antaranya:

  1. Apa penyebab terjadinya kegagalan pada pemberdayaan masyarakat nelayan.?
  2. Kenapa konsep pemberdayaan nelayan merupakan konsep yang di perioritaskan oleh pemerintah sekarang ini.?
  3. Bagaimana kondisi masyarakat di lingkungan nelayan yang tradisional.?
  4. Apa konsep pemberdayaan nelayan yang tepat dalam perbaharuan nelayan dari tradisional ke nelayan modern.?
  5. Bagaimana kondisi iklim pada wilayah masyarakat tradisional.?

C. Tujuan Masalah

Maksud dan tujuan kami menulis tentang nelayan pancingan tradisional adalah untuk dapat memahami kondisi masyarakat yang masih belum terjamah oleh pemerintah yang memang khususnya mereka tinggal di tempat yang terpencil atau jauh dari pusat kota yang biasanya menjadi titik utama pembangunan yang di lakukan oleh pemerintah daerah.

Adanya nelayan tradisional ini di sebabkan karena kurangnya SDM (Sumber Daya Manusia) di daerah tersebut, mereka belum mempunyai keahlian untuk memenfaatkan SDA (Sumber Daya Alam) yang sangat melimpah. Mungkin pemerintah dalam hal ini dapat mengupayakan kemajuan SDM di daerah nelayan tradisional.

Tujuan kami lainya dalam menulis makalah ini adalah untuk memudahkan semua pihak dalam melakukan riset atau penelitian yang berkaitan tentang nelayan tradisional atau tentang pemberdayaan masyarakat. Paling tidak ada lima pendekatan pemberdayaan masyarakat pesisir yang  baru saja diimplementasikan.             Dengan adanya kelima pendekatan ini tidak berarti bahwa pendekatan lain tidak  ada. Selama ini, baik lingkup Departemen Kelautan dan Perikanan  maupun instansi  pemerintah lainnya, pemerintah daerah, dan khususnya lembaga swadaya masyarakat dalam bentuk yayasan dan koperasi telah banyak yang melakukan  kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Kelima pendekatan tersebut adalah:

  1. penciptaan lapangan kerja alternatif sebagai sumber pendapatan lain bagi keluarga
  2. mendekatkan masyarakat dengan sumber modal dengan penekanan pada  penciptaan mekanisme mendanai diri sendiri (self financing mechanism),
  3. mendekatkan masyarakat dengan sumber teknologi baru yang lebih berhasil dan  berdaya guna.
  4. mendekatkan masyarakat dengan pasar serta.
  5. membangun  solidaritas serta aksi kolektif di tengah masyarakat. Kelima pendekatan ini dilaksanakan dengan memperhatikan secara sungguh-sungguh aspirasi keinginan,  kebutuhan, pendapatan, dan potensi sumberdaya yang dimiliki masyarakat.

 

BAB II

A. Nelayan Tradisional Pancingan

Nelayan-nelayan tradisional pancingan merupakan salah satu potret kehidupan masyarakat yang dibawah garis kemiskinan, kehidupan yang hanya mengandalkan hasil tangkapan sehari-hari membuat kondisi kebutuhan rumah tangga yang pas-pasan. Disisi lain masyarakat ini juga sangat rendah kualitas sumber daya manusia, sehingga proses pencapaian tangkapan mereka jauh dari yang prioritaskan.

Harus dipahami juga bahwa para nelayan pancingan juga merupakan dari salah satu ketimpangan ekonomi yang sangat buruk, dimana proses pencaharian sangat dibatasi oleh kemampuan-kemampuan mereka yang sanagt pas-pasan

Para pakar ekonomi sumberdaya melihat kemiskinan masyarakat pesisir,  khususnya nelayan (Pancingan) lebih banyak disebabkan karena faktor-faktor sosial  ekonomi yang terkait karakteristik sumberdaya serta teknologi yang digunakan.

Faktor-faktor yang dimaksud membuat sehingga nelayan tetap dalam kemiskinannya. Smith (1979)  yang mengadakan  kajian  pembangunan perikanan di berbagai negara Asia serta Anderson (1979) yang melakukannya di negara-negara Eropa dan Amerika Utara tiba pada kesimpulan bahwa kekauan aset  perikanan (fixity and rigidity of fishing assets) adalah asalan utama kenapa nelayan tetap tinggal atau bergelut dengan kemiskinan. dan sepertinya tidak ada upaya  mereka untuk keluar dari kemiskinan itu. Kekakuan aset tersebut adalah karena sifat aset perikanan yang begitu rupa sehingga sulit untuk dilikuidasi atau diubah bentuk dan fungsinya untuk digunakan bagi kepentingan lain.

Akibatnya pada saat produktivitas aset tersebut rendah, nelayan tradisional (pancingan) tidak  mampu untuk mengalih fungsikan atau melikuidasi aset tersebut. Karena itu,  meskipun rendah produktivitas, nelayan tradisional tetap melakukan operasi penangkapan  ikan dengan pancingan yang sesungguhnya tidak lagi efisien secara ekonomis.

Subade  and  Abdullah  (1993) mengajukan  argumen  lain yaitu  bahwa  nelayan  tetap tinggal  pada  industri  perikanan  karena  rendahnya opportunity  cost mereka. Opportunity cost nelayan,  menurut  definisi,  adalah  kemungkinan  atau  alternatif  kegiatan  atau  usaha ekonomi lain yang  terbaik yang  dapat diperoleh  selain menangkap  ikan. Dengan  kata lain, opportunity  cost adalah  kemungkinan  lain  yang  bisa  dikerjakan  nelayan  bila  saja  mereka tidak  menangkap  ikan.  Bila opportunity  cost rendah  maka  nelayan  cenderung  tetap melaksanakan usahanya meskipun usaha tersebut tidak lagi menguntungkan dan efisien.

Ada juga argumen yang mengatakan bahwa opportunity cost nelayan, khususnya di negara  berkembang,  sangat  kecil  dan  cenderung  mendekati  nihil.  Bila demikian  maka nelayan tidak punya pilihan  lain sebagai mata pencahariannya. Dengan  demikian apa yang terjadi, nelayan tetap bekerja sebagai nelayan karena hanya itu yang bisa dikerjakan.

Panayotou (1982) mengatakan bahwa nelayan tetap mau tinggal dalam kemiskinan karena kehendaknya untuk menjalani kehidupan itu (preference for a particular way of life). Pendapat Panayotou (1982) ini dikalimatkan oleh Subade  dan Abdullah (1993) dengan  menekankan  bahwa  nelayan  lebih  senang  memiliki kepuasaan hidup yang bisa diperolehnya dari menangkap ikan dan bukan  berlaku sebagai pelaku yang semata-mata beorientasi pada peningkatan pendapatan. Karena way of life yang demikian maka apapun yang terjadi dengan keadaannya, hal tersebut tidak dianggap sebagai masalah baginya of life sangat sukar dirubah.  Karena itu maka meskipun menurut pandangan orang lain nelayan hidup dalam kemiskinan, bagi nelayan itu bukan kemiskinan dan bisa saja mereka merasa bahagia dengan kehidupan itu.

B. Faktor Yang Menyebabkan Pemberdayaan Nelayan Pancingan Jauh Dari Jangkauan Penangkapan Maksimal

Dalam mengukur tingkat kesejahtraan masyarakat nelayan ada beberapa indikator yang digunakan seperti idikator pendapatan nelayan dan indikator nilai tukar nelayan

Hasil akhir dari indikator nilai tukar nelayan masih dapat dipertahankan sebagai slah satu referensi dasar yang amad berharga untuk menetaskan pembangunan pada nelayan tradisional pancingan.

Selain dua indikasi tersebut nelayan tradisional pancingan juga jauh dari taraf pendidikan yang layak, sehingga proses pengembangan daya tangakap ikan yang efektif tidak meresap pada ranah masyarakat tersebut.

Alat Masih Tradisional

C. Kondisi Iklim Pada Wilayah Penangkapan Nelayan Tradisional

1. Jauh dari perkotaan

Kondisi masyarakat nelayan tradisional pada umum”a jauh dari perkotaan, dimana kehidupan para nelayan tradisioanal sangat identik dari sistem kekeluargaan dan juga jauh dari dermaga-dermaga besar, sehingga dapat didefenisikan masyarakat nelayan tradisional adalah masyarakat desa/wilayah yang sedikit terpencil.

2. Suasana Alam Yang Sangat Terlindungi

Penelayan trdisional dapat melindungi popularistas ikan, dan juga pencemaran lingkungan, dimana proses yang mereka lakukan sehari-hari jauh dari bahan-bahan kimia.

3. Popularitas ikan masih sangat banyak

Populartas ikan di kawasan nelayan (pancingan) tradisional pada umumnya sangat banyak bahkan melebihi dari yang dibutuhkan oleh masyarakat sendiri

4. Sangat menentukan oleh kondisi angin

Proses penangkapan yang mereka lakukan sangat ditentukan oleh kondisi angin, karena kekuatan angin biarpun sedikit namun akan membuat ombak yang besar, sehingga dapat menghambat proses penangkapan, bahkan bisa jadi tidak di lakukan

D. Peran Organisasi  Non Pemerinatahan

Peran organisasi non pemerintahan dalam pemberdayaan nelayan pancing tradisional adalah merupakan sesuah estimasi dari pembangunan dan pemberdayaan masyarakat, dalam hal ini Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Organisasi Masyarakat (Ormas), dll. Adalah wadah yang dapat memberi suatu perubahan dalam taraf ekonomi masyarakat nelayan itu sendiri.

Peran ormas dalam memberi penyuluhan dan juga memberi masukan-masukan agar para nelayan pancing tradisional lebih memahami konsep penangkapan ikan yang lebih efektif dan efisien. masyarakat nelayan yang pada umumnya tidak memiliki pendidikan lebih, juga sangat keterbelakangan dalam mengusasi dunia teknologi, sehingga proses yang terus mereka jalani hanya bisa sejauh yang mereka lakukan itu.disisi lain bisa dilihat perbedaan sifat antara nelayan pancing tradisional dengan nelayan pancing industri/modern, yaitu:

No Variabel Nelayan Tradisional Nelayan Modern
1 Unit Penangkapan Keluarga, tidak ada pembagina kerja Stabil, Pembagian kerja stabil
2 Kepemilikan Nelayan senior, milik kelompok Non nelayan, modal besar, perbankan
3 Komitmen Waktu Separuh waktu Penuh waktu
4 Kapal Mesin tempel Mesin dalam
5 Perlatan Manual Mekanis
6 Investasi Kecil, dukungan tengkulan Besar, dukungan perbankan
7 Produktivitas Rendah Tinggi
8 Penjualan Hasi Pedagang lokal Pasar yang terorganisir
9 Pengolahan Hasil Diolah tradisional Umumnya segar
10 Kondisi Sosial Sering terisolasi Terasimilasi
11 Daerah penangkapan Dekat dengan pantai, terkonsentrasi Jauh dari pantai, sekitar rumpon
12 Penggunaan Es Sedikit atau tidak Banyak
13 Lama Trip Kurang dari sehari Lebih dari sehari

Dari kondisi tersebut sehingga sangat dibutuhkan peran dari organisasi-organisasi non pemerintahan dalam paya peningkatan akses masyarakat terhadap teknologi belum banyak dilakukan. Hal ini karena adanya kesulitan untuk mengindentifikasi jenis dan tipe teknologi yang dibutuhkan masyarakat. Seringkali, justru  masyarakatlah yang lebih maju dalam mencari dan mengadopsi teknologi yang  diinginkan. Sehingga kadang-kadang pemerintah tertinggal. Dengan kata lain,  dalam hal teknologi masyarakat lebih maju dari pemerintah.

E. Strategi Pemberdayaan

Strategi pemberdayaan masyarakat nelayan tradisional merupakan hal yang harus diperioritaskan, agar bisa menekan angka kemiskinan di indonesia menurun, proses ini sangat sinergisitas dari pemerintah sendiri dalam mengakomodasikan kepentingan-kepentingan nelayan tradisional terpenuhi,strategi tersebut antara lain:

  1. Meningkatkan kepekaan pemerintah dalam pemberdayaan masyarakat nelayan tradisonal.
  2. Memberikan penyuluhan, dalam pernan LSM, Ormas, dll dalam meningkatkan proses penangkapan nelayan menjadi modern.
  3. Ikut campurtangan dari para penguasa, proses ini ditumbuhkan oleh orang-orang yang memiliki modal besar dalam meningkatkan kapasitas nelayan tradisional.
  4. Dukungan penuh dari masyarakat itu sendiri.
  5. Belum adanya kebijakan dan aplikasi pembangunan kawasan pesisir dan masyarakat nelayan yang terintegrasi atau  terpadu  di  antara  para  pelaku pembangunan.
  6. Menjaga  konsistensi  kuantitas  produksi  (hasil  tangkap)  sehingga  aktivitas  sosial ekonomi perikanan di desa-desa nelayan berlangsung terus
  7. Maslah isolasi geografis desa nelayan, sehingga menyulitkan keluar masuk barang, jasa,  kapital,  dan manusia.    Berimplikasi  melambatkan  dinamika  sosial,  ekonomi, dan budaya masyarakat nelayan.
  8. Keterbatasan  modal  usaha  atau  investasi  sehingga  menyulitkan  nelayan meningkatkan kegiatan ekonomi perikanannya.

F. Analisis

Dari kelompok kami mengambil study kasus dari kehidupan masyarakat yang bertempat di pantai Kondang Merak di daerah Malang Selatan tepatnya di sebelah baratnya pantai Balai Kambang, di daerah ini pada umumnya masyarakat bermata pencaharian sebagai nelayan tradisional (pancing). Proses penangkapan yang meraka lakukan hanya membutukan modal yang sedikit, dan juga keterbelakangan informasi, membuat mereka terus terpuruk pada ranah kemiskinan, dimana hasil yang mereka dapatkan perhari hanya cukup untuk kehidupan sehari itu saja.

Kehidupan masyarakat disana dapat dikatakan masih di bawah standar sejahtera, hal ini dapat kita lihat dari seluruh masyarakat pantai Kondang Merak yang berprofesi sebagai nelayan tradisional,dan sebagian besarnya dari itu adalah nelayan pancing tradisional, yang mana mereka hanya mengandalkan kehidupan mereka dari hasil tangkapan seadanya yang jumlahnya sangat minim. Dilain hal juga masyarakat Kondang Merak sangat menikmati kehidupan seperti itu, biarpun kondisi mereka tidak pernah jelas.

Masyarakat Pantai Kondang Merak hidup rukun antara satu dengan yang lainnya. Disana mereka belum mengenal pendidikan formal muali dari SD, SMP, SMA, biasanya kalau anak mereka mau bersekolah harus mencari tempat kost di luar desa mereka, hal ini sangat kontra dengan program pemerintah yaitu pendidikan 9 tahun.

 

BAB III

A. Kesimpulan

Pemberdayaan masyarakat nelayan pancingan tradisional adalah merupakan segelumit hal yang harus diperjuangkan untuk meningkatkan taraf kehidupan yang lebih layak, secara sosial maupun ekonomi. Pemberdayaan masyarakat ini sangat ditentukan oleh skill dan juga kemauan dari masyarakat itu sendiri, dimana dukungan LSM, Pemerintahan, Para penanam modal hanyalah faktor pendukung, namun disini juga punya tanggung jawab pemerintah dalam arti kata pemerintah haru menyiapkan fasilitas dan mobilitas yang memadai, guna meningkatkan daya penangkapan ikan lebih baik, dan siap untuk di expor.

Peran Organisasi pemerintahan, non pemerintahan, LSM, maupun infestor adalah proses pemberdayaan yang dapat mendukung kesuksesan nelayan pancingan tradisional, dibalik itu juga sangat dibutuhkan peran pemerintah yang lebih eksis, dimana pemerintah sebagai tonggak birokrasi harus dapat menampung aspirasi rakyat dan dapat memberi pelayanan yang baik kepada rakyatnya sendiri.

Legislasi Pendidikan yang pormal maupun non pormal harus dapat ditingkatkan, guna memperbaiki Sumber Daya Manusia Itu sediri, dengan kemajuan pendidikan akan membuat nelayan-nelayan pancing tradisionan menjadi unggul dan konpetitif dalam menangkap ikan dan dapat memproduksinya lebih baik.

B. Kritik dan Saran

Kemiskinan dan kebodohan adalah hal yang tidak mungkin dipisahkan, kususnya pada wilayah nelayan pancing tradisional yang umumnya bermasyarakat pesisir, merupakan tanggung jawab negara dan juga daerah, proses aktualisasi tersebut sangat dicerminkan oleh pembangunan daerah dan juga dapat mengotori nama baik wilayah maupun  negara itu sendiri, rasionalnya semakin banyak nelayan tradisional akan semakin meningkat angkat kemiskinan itu sendiri

Kemajuan bangsa ini kedepan, pemerintah sebagai penanggung jawabnya adalah prose dari penghapusan kemiskinan, dan harus dilakukan dengan menyediakan infrastruktur maupun suprastruktur, guna meningkatkan daya saing masyarakat itu sendiri.

Daftar Isi

  1. Bengen,  D.G.  Pengelolaan  Sumberdaya  Wilayah  Pesisir  Secara  Terpadu, Berkelanjutan  dan  Berbasis  Masyarakat.  Makalah  pada  Sosialisasi  Pengelolaan Sumberdaya Berbasis Masyarakat. Bogor, 21-22 September  2001
  2. Haque, W., N. Mehta, A. Rahman, and P. Wignaraja. Towards a Theory of Rural Development. Development Dialogue, 1977
  3. Smith, Adam, An Inquiry Into The Nature And Cause Ot The Wealth of nations.; New York, Modern Library, 1776

Perihal Afrizal WS Zaini
BIODATA Nama : Afrizal Woyla Saputra Zaini., S.IP Tempat/Tanggal Lahir : Seuradeuk/29 Juli 1990 Agama : Islam Jenis Kelamin : Laki-Laki Nama Orang Tua : - Ayah : Zaini Djambi (Alm) Ibu : Mariyah Alamat di Aceh : Ds. Seuradeuk Kec.Woyla Timur Kab. Aceh Barat Alamat di Malang : Asrama Mahasiswa Aceh, Jl. Bendungan Jatigede No. 03 Telp 0341-576156/HP 085277784400. Malang Pekerjaan : Wiraswasta Fak/Jurusan : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik/ Ilmu Pemerintahan Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang E-mail : awszaini@yahoo.com Twitter :@afrizalwoyla Riwayat Pendidikan : 1.Sekolah Dasar Negeri Meutulang : 1997-2003 2.Madrasah Tsanawiyah Negeri Peureumeu : 2003-2006 3.Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 6 Meulaboh : 2006-2009 4.Universitas Muhammadiyah Malang : 2009 - 2013 Pengalaman Organisasi : 1. Sekretaris Umum Ikatan Pelajar Pemuda & Mahasiswa Aceh (IPPMA) Malang 2009-2010, dan 2010-2011. 2. Sekretaris Asrama Mahasiswa Aceh Malang 2009-2010. 3. Ketua Panitia Pembangunan Asarama Aceh Malang Anggaran 2010 4. Ketua Umum Angkatan 2009 Jurusan Ilmu Pemerintahan UMM. 5. Ketua Departemen Politik Hukum Dan HAM Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UMM 2010 - 2011. 6. Anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FISIP UMM. 7. Anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat FISIP UMM. 8. Sekretaris Panitia Day Of Tsunami ” Masa Depan Aceh Pasca Tsunami” Tahun 2009. 9. Anggota Paskibraka Kabupaten Aceh Barat Angkatan 63 Tahun 2008. 10. Anggota Nasional Demokrat DPC Kabupaten Aceh Barat.

5 Responses to PEMBERDAYAAN NELAYAN PANCING TRADISIONAL

  1. ewan mengatakan:

    hehehee…………….!! tq pak

  2. Adam Kurniawan mengatakan:

    Nice post n good blog sob…
    Lanjut terus…
    Ditunggu posting selanjutnya ya…

    Jangan lupa juga kunjungan balik ya…
    Dan kasi komennya ya sob di blog saya…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: